Polemik Baju Belum Usai, BEM UNG Kembali Berjualan: PKKMB Jadi Ladang Cuan?
Beranda Berita Polemik Baju Belum Usai, BEM UNG Kembali Berjualan: PKKMB Jadi Ladang Cuan?
Ulanda.id – Polemik penjualan baju belum selesai, BEM UNG kembali berjualan. Kali ini bukan baju, melainkan makanan dan snack yang dikemas dalam “Moana Packs” seharga Rp43 ribu.
Secara narasi, BEM memang tidak mengatakan mahasiswa baru wajib membeli Moana Packs melalui BEM. Tetapi narasi itu segera kehilangan makna ketika mahasiswa baru kemudian diberi ketentuan bahwa Moana Packs wajib dibawa pada hari ketiga PKKMB.
Tidak wajib membeli, tetapi wajib membawa. Lalu, bagaimana mahasiswa baru yang ingin membeli secara mandiri dapat mengetahui isi paket tersebut?
Jawabannya justru dibuat berbelit melalui riddle yang sulit dipahami. Alih-alih memberikan informasi terbuka mengenai isi paket agar mahasiswa dapat menentukan sendiri apakah hendak membeli dari BEM atau mencari alternatif lain, informasi tersebut justru dikemas seperti teka-teki. Ini transparansi atau strategi membuat mahasiswa baru menyerah dan akhirnya membeli dari BEM?
Dengan harga Rp43 ribu, isi Moana Packs disebut hanya terdiri atas tiga jenis snack dan satu botol air mineral. Sementara makanan yang menjadi bagian dari konsumsi tersebut dikelola oleh pihak di luar BEM yang disebut tidak memiliki pengalaman dalam pengadaan makanan untuk kegiatan sebesar PKKMB.
Pertanyaan kemudian menjadi semakin sederhana: mengapa harus dibuat serumit ini?
Jika BEM benar-benar tidak mewajibkan pembelian melalui mereka, seharusnya informasi mengenai isi paket diberikan secara terang. Mahasiswa baru cukup diberi daftar isi dan ketentuan yang jelas, lalu dibiarkan memilih. Bukan diberikan teka-teki yang justru membuat pilihan mandiri menjadi sulit.
Di tengah polemik penjualan baju yang belum tuntas, muncul lagi pola serupa: mahasiswa baru kembali ditempatkan sebagai konsumen.
Dirut Bulog Sidak Pasar Sentral dan Pastikan Minyakita Gorontalo Aman
Padahal mahasiswa dapat membawa bekal. UMKM juga telah diberikan ruang oleh kampus untuk berjualan dengan mekanisme penyewaan lahan. Tetapi ruang tersebut justru berhadapan dengan skema konsumsi yang telah dikemas dan diarahkan melalui Moana Packs.
Yang lebih mengganggu adalah diamnya Universitas Negeri Gorontalo. Ketika polemik sebelumnya belum memperoleh penjelasan yang memadai, persoalan baru kembali muncul dalam PKKMB. BEM sibuk mengatur paket, mahasiswa sibuk mencari tahu isinya, sementara kampus tidak kunjung memberikan penjelasan mengenai bagaimana mekanisme tersebut diawasi.
BEM mengatakan tidak wajib membeli. Tetapi wajib membawa. Isi paket dirahasiakan dalam riddle. Harga ditentukan. Vendor ditentukan. Kampus diam.
Kalau memang tidak ada kepentingan ekonomi di baliknya, mengapa informasi sederhana tentang isi makanan harus dibuat serumit teka-teki?
Residence Al-Wahhab Gorontalo: Kost & Homestay Strategis, Nyaman, dan Fasilitas Lengkap
BEM tidak perlu marah. Tidak perlu berlindung di balik kalimat “tidak ada kewajiban membeli dari BEM”.
Cukup jawab pertanyaan mahasiswa:
Siapa yang menentukan Moana Packs? Mengapa harganya Rp43 ribu? Siapa penyedia makanannya? Apa dasar pemilihannya? Dan mengapa mahasiswa baru tidak diberikan informasi isi paket secara terbuka sehingga dapat membeli secara mandiri?
Sebab PKKMB bukan ruang untuk menguji kemampuan mahasiswa baru memecahkan riddle. Mereka datang untuk mengenal kehidupan kampus, bukan untuk mencari tahu apa isi dagangan yang sedang diarahkan kepada mereka.
Polemik baju belum selesai. Kini Moana Packs muncul.
BEM kembali berjualan. Mahasiswa kembali menjadi pasar. Dan kampus kembali memilih diam.
Jika ini benar-benar untuk kepentingan mahasiswa, berikan transparansi. Jika memang bukan bisnis, buktikan bahwa ini bukan bisnis.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow