Kisah Pilu Lansia di Gorontalo, Tinggal di Kos Kumuh Usai Rumah Dijual Anak

Smallest Font
Largest Font

Ada kisah yang sulit dipercaya jika hanya didengar sepintas. Namun, kenyataan itu benar-benar terjadi di Kota Gorontalo. Seorang perempuan lanjut usia harus menghabiskan sisa hidupnya di sebuah kamar kos sempit yang lembap dan berbau menyengat setelah rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berlindung justru berpindah tangan karena dijual oleh anak kandungnya sendiri.

Perempuan itu adalah Huwa Hu Opi. Di usia yang semestinya dipenuhi ketenangan, ia justru bergulat dengan keterbatasan hidup. Kamar kos sederhana yang disewanya seharga Rp300 ribu per bulan menjadi satu-satunya tempat berteduh. Biaya sewa itu dibayar bergantian menggunakan sisa uang pensiun mendiang suaminya atau dari penghasilan cucunya yang juga hidup serba pas-pasan.

Kondisi tersebut baru terungkap setelah Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea turun langsung meninjau lokasi tempat tinggal sang nenek, Sabtu. Bahkan, saat Wali Kota tiba, Huwa Hu Opi sudah lebih dulu dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun. Meski demikian, ia tetap memilih mendatangi kamar kos itu terlebih dahulu untuk melihat sendiri lingkungan yang selama ini dihuni perempuan lanjut usia tersebut.

Ruangan itu nyaris tak menyisakan kenyamanan. Dinding kusam dipenuhi bercak lembap, sirkulasi udara minim, aroma tak sedap menyeruak dari sudut ruangan, sementara sebuah kasur tipis menjadi tempat sang nenek beristirahat setiap malam. Pemandangan itu membuat Wali Kota terdiam cukup lama.

"Kok bisa ada anak seperti itu," ucap Adhan Dambea, Wali Kota Gorontalo.

Ucapan singkat itu menggambarkan keterkejutan sekaligus keprihatinannya setelah mengetahui rumah yang dulu ditempati Huwa Hu Opi telah dijual oleh anaknya sendiri hingga perempuan lanjut usia tersebut kehilangan tempat tinggal.

Di sela peninjauan, Wali Kota berbincang dengan warga sekitar. Dari para penghuni kos itulah terungkap fakta lain yang tak kalah menyayat hati. Selama kondisi Huwa Hu Opi semakin melemah, justru para tetangga yang bergantian mengantarkan bubur agar perempuan renta itu tetap bisa makan. Mereka membantu tanpa diminta, sekadar karena tak tega melihat sang nenek harus menghadapi hari-harinya seorang diri.

Di balik kisah pilu itu, masih ada secercah harapan yang datang dari seorang cucu bernama Rizal, 25 tahun. Rizal memilih tetap berada di sisi neneknya, perempuan yang telah membesarkannya sejak kecil. Ketika rumah keluarga mereka dijual, ia ikut meninggalkan Limboto dan menetap bersama sang nenek di kamar kos sederhana tersebut.

Tak ada pekerjaan mapan yang dimiliki Rizal. Namun, ia mengaku akan terus berusaha merawat perempuan yang dianggapnya sebagai orang tua sendiri.

Ketika ditanya siapa yang membayar biaya kos setiap bulan, Rizal memberikan penjelasannya.

"Kadang saya yang bayar. Kadang pakai uang pensiun almarhum kakek," kata Rizal, Cucu Huwa Hu Opi.

Jawaban sederhana itu memperlihatkan bagaimana keduanya bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi yang semakin berat.

Usai melihat langsung kondisi tempat tinggal Huwa Hu Opi, Wali Kota melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat perempuan itu dirawat. Di ruang perawatan, ia berbincang dengan tenaga kesehatan mengenai perkembangan kondisi pasien sekaligus memberikan dukungan moril kepada Huwa Hu Opi agar tetap kuat menjalani pengobatan.

Pemerintah Kota Gorontalo, kata dia, tidak akan membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Menurutnya, langkah penanganan segera disiapkan agar Huwa Hu Opi memperoleh tempat tinggal yang lebih layak sekaligus mendapatkan bantuan sosial yang dibutuhkan.

"Tidak boleh ada warga lanjut usia yang menjalani masa tuanya dalam kondisi seperti ini. Pemerintah harus hadir memberikan perlindungan," tegas Adhan Dambea, Wali Kota Gorontalo.

Potret Buram Kemiskinan Eksktrem di Sudut Kota

Namun, keprihatinan itu ternyata belum berakhir. Belum lama meninggalkan rumah sakit, Wali Kota kembali menerima laporan baru dari masyarakat. Kali ini, informasi datang dari Kelurahan Pilolodaa.

Laporan tersebut menyebutkan seorang lansia bersama enam anggota keluarganya hidup di sebuah pondok darurat yang berdiri di kawasan pemakaman. Mereka disebut berasal dari Bitung dan terpaksa membangun tempat tinggal seadanya karena tidak memiliki rumah.

Informasi itu kembali membuat Wali Kota prihatin. Baru saja ia menyaksikan seorang nenek bertahan hidup di kamar kos yang nyaris tak layak dihuni, kini muncul kenyataan lain bahwa masih ada keluarga yang menggantungkan hidup di area pekuburan. Ia memastikan akan segera mendatangi lokasi tersebut untuk memastikan kondisi sebenarnya sekaligus menentukan bentuk intervensi yang harus dilakukan pemerintah.

"Baru saja saya melihat kondisi seorang nenek yang hidup memprihatinkan, sekarang datang lagi laporan tentang lansia yang tinggal bersama enam anggota keluarganya di kawasan pekuburan. Ini tidak boleh dibiarkan. Pemerintah harus hadir," tutur Adhan Dambea, Wali Kota Gorontalo.

Rangkaian peristiwa yang ditemukan hanya dalam satu hari itu memperlihatkan sisi lain wajah Kota Gorontalo yang jarang terlihat di ruang publik. Di balik geliat pembangunan dan aktivitas perkotaan, masih ada warga lanjut usia yang menjalani hari-hari mereka dalam keterbatasan ekstrem, bergantung pada kepedulian tetangga dan keluarga yang juga hidup serba kekurangan.

Kasus Huwa Hu Opi menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan, keterlantaran lansia, hingga rapuhnya ketahanan keluarga masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Di saat sebagian orang menikmati kenyamanan rumah sendiri, masih ada mereka yang harus menghabiskan masa tua di kamar kos sempit—bahkan di kawasan pemakaman—sambil menunggu kehadiran negara yang benar-benar memberi rasa aman.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed