Pemahat Bali Ida Bagus Ketut Lasem Ungkap Filosofi Trofi Piala Presiden

Smallest Font
Largest Font

Pemahat asal Desa Kemenuh, Gianyar, Bali, Ida Bagus Ketut Lasem, mengungkapkan filosofi di balik pembuatan trofi Piala Presiden 2026 yang diraih oleh Persebaya Surabaya usai mengalahkan Persib Bandung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Rabu (5/8/2026), sebagaimana dilansir dari Bola.

Seniman berusia 86 tahun tersebut memahat kayu jati bermodalkan Rp25 juta untuk membuat trofi turnamen yang telah digelar sebanyak 8 kali itu sejak 2015, sebelum akhirnya dipercantik dengan ornamen perak serta batu dari berbagai daerah.

"Dari sekian banyak pemahat di Bali, akhirnya saya yang ditunjuk untuk membuat trofi Piala Presiden," kata Ida Bagus Ketut Lasem.

Ia merasa senang karena trofi buatannya sempat kembali ke Tanah Gianyar dan dinilai semakin indah setelah dipoles oleh seniman asal Yogyakarta, Surya Aditya Putra, pada edisi 2017.

"Dia kembali ke rumahnya untuk sementara," beber Ida Bagus Ketut Lasem.

Sebelum piala tersebut diboyong Persebaya, Bali United sebenarnya berpeluang membawa pulang trofi ke Gianyar saat melenggang ke final Piala Presiden 2018, namun takluk dari Persija Jakarta dengan skor 3-0.

"Sekarang saya melihat trofi Piala Presiden sudah semakin cantik. Ini untuk kebaikan bersama dan apa yang dilakukan untuk trofi tersebut, masing-masing pasti ada tujuan seninya," tambah Ida Bagus Ketut Lasem.

Ida Bagus Ketut Lasem menjelaskan bahwa karya seni ini membawa filosofi mendalam yang tidak pernah ia ucapkan secara terbuka sewaktu awal pembuatannya pada sembilan tahun silam.

"Agawe Sukaning Wong Len," ungkap Ida Bagus Ketut Lasem.

Filosofi tersebut bermakna membawa kegembiraan dan kebahagiaan bagi orang banyak melalui ajaran Hindu serta budaya Nusantara.

"Dari filosofi ajaran Hindu dan Budaya Nusantara ini, bisa dilihat Piala Presiden menjadi panggung terbaik untuk orang lain. Seluruh masyarakat bisa senang, bahagia, dan gembira," beber Ida Bagus Ketut Lasem.

Bagi seniman kelahiran 31 Desember 1940 itu, sepak bola menyimpan makna yang sejajar dengan realitas kehidupan manusia.

"Sepak bola itu pelajaran hidup. Ada saatnya kita ditendang, ada saatnya kita sebagai manusia disanjung," terang Ida Bagus Ketut Lasem.

Desain unik gabungan elemen kayu dan ornamen Nusantara tersebut mendapat apresiasi langsung dari penjaga gawang Persebaya Surabaya, Reza Arya Pratama.

"Sangat unik dibuat dari kayu dan langsung dibuat oleh seniman Bali ya?" ujar Reza Arya Pratama.

Mantan kiper PSM Makassar itu menilai piala tersebut sangat istimewa karena menonjolkan kebudayaan lokal.

"Top ini pialanya. Ada ornamen Bali dan Indonesia," tambah Reza Arya Pratama.

Dampak ekonomi dan kebahagiaan dari filosofi turnamen turut dirasakan oleh Ni Ketut Sudianti, pelaku UMKM di kawasan Stadion Dipta, yang dagangannya diborong oleh Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait pada Kamis malam (6/8/2026).

"Astungkara diberikan rezeki sama bapak. Diborong 40 rice bowl untuk dibagi-bagikan. Kami juga diberikan tips tambahan," terang Ni Ketut Sudianti.

Kecerian senada disampaikan oleh perwakilan Kosta Kopi, Mita Kusuma Dewi, yang mencatatkan lonjakan penjualan dan antrean panjang konsumen sejak babak semifinal.

"Saya pikir tidak seramai ini. Lumayan banget kita kerjanya sampai harus tutup orderan sementara. Kamu senang juga dapat rezeki tambahan," beber Mita Kusuma Dewi.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed