Rupiah Melemah Dekati Rp18.000 Per Dolar AS, Bank Indonesia Intervensi Pasar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau melemah semakin dalam hingga mendekati level psikologis baru sebesar Rp18.000. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar serta masyarakat terhadap stabilitas harga barang impor.
Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia menyatakan komitmennya untuk tetap berada di pasar keuangan. Otoritas moneter siap mengerahkan instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan aktivitas pasar berjalan normal.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa gejolak ekonomi global dan domestik menjadi pemicu tekanan berat bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, seperti dikutip dari Ulanda.
“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” kata Denny dalam keterangan tertulis, Rabu, 3 Juni 2026.
Data Bloomberg menunjukkan mata uang AS menguat 0,68 persen ke level Rp17.960 pada perdagangan Rabu siang. Angka ini melonjak dibandingkan posisi penutupan hari Selasa, 2 Juni 2026, yang berada di level Rp17.839.
Menghadapi situasi ini, bank sentral menerapkan pembatasan baru sejak 2 Juni 2026. Pembelian valas tunai terhadap rupiah tanpa underlying kini dibatasi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan demi mengendalikan pasokan dan permintaan dolar.
Selain langkah taktis tersebut, Bank Indonesia mengoptimalkan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk transaksi internasional. Langkah ini bertujuan menekan ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan bilateral.
Hingga kini, kerja sama penggunaan mata uang lokal telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Transaksi antarnegara tersebut kini dapat dilakukan langsung tanpa konversi ke dolar AS.
Kendati demikian, bank sentral memerlukan dukungan lintas sektor untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.
“Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” ujarnya.
Dampak penurunan nilai tukar ini mulai membayangi sektor riil berupa potensi kenaikan harga produk elektronik, komoditas konsumsi impor, dan bahan baku industri.
Dunia usaha yang memiliki utang atau kewajiban pembayaran dalam denominasi dolar AS juga harus bersiap menghadapi pembengkakan biaya produksi.
Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa fokus utama otoritas saat ini adalah meredam volatilitas ekstrem agar tidak menciptakan ketidakpastian yang berlebihan di pasar keuangan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow