Rachmat Gobel Desak Pemerintah Rangkul Eksportir Nasional demi Selamatkan Rupiah
Beranda Berita Rachmat Gobel Desak Pemerintah Rangkul Eksportir Nasional demi Selamatkan Rupiah
Ulanda.id — Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan gejolak pasar keuangan, Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, mengusulkan langkah yang menurutnya kerap luput dari perhatian pemerintah: melibatkan para eksportir nasional secara langsung dalam upaya memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.
Menurut Rachmat Gobel, menjaga stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia atau kementerian terkait. Dibutuhkan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh kekuatan ekonomi nasional, termasuk pelaku ekspor yang selama ini menjadi salah satu sumber utama masuknya devisa ke dalam negeri.
“Semua harus bahu-membahu untuk menguatkan ekonomi nasional,” kata Rachmat Gobel, Rabu, 10 Juni 2026.
Pernyataan itu disampaikan Rachmat Gobel sebagai respons atas langkah Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang dalam beberapa waktu terakhir aktif melakukan koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan ekonomi. Dasco diketahui menggelar berbagai pertemuan dengan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Hukum, hingga Kepala Badan Pengelola Investasi BUMN Danantara.
Rangkaian koordinasi tersebut difokuskan pada pencarian solusi atas melemahnya kurs rupiah dan tekanan yang terjadi di pasar saham nasional. Beberapa isu yang dibahas mencakup optimalisasi ekspor komoditas strategis seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel, peningkatan ekspor migas, hingga strategi menarik investasi asing.
Namun bagi Rachmat Gobel, upaya memperkuat rupiah tidak boleh hanya bertumpu pada sektor ekstraktif dan komoditas tambang. Ia menilai pemerintah perlu memperluas perhatian kepada sektor industri manufaktur, pangan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
“Perhatikan juga sektor industri, manufaktur, dan pangan. Sektor-sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus menciptakan pemerataan ekonomi,” ujarnya.
Rachmat Gobel menilai terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah apabila ingin meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Salah satunya adalah tingginya biaya logistik yang selama bertahun-tahun menjadi hambatan utama pelaku usaha dalam menembus pasar internasional.
Ia mendorong percepatan digitalisasi layanan bea cukai, efisiensi pengelolaan kontainer, pembenahan sistem pelabuhan, hingga peningkatan konektivitas transportasi menuju kawasan pelabuhan. Menurutnya, langkah-langkah tersebut dapat memangkas biaya produksi dan distribusi yang selama ini membebani eksportir.
Selain itu, Rachmat Gobel juga mengingatkan pentingnya diversifikasi pasar ekspor. Selama ini, Indonesia dinilai terlalu bergantung pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan China.
Melalui jaringan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di berbagai negara, pemerintah didorong untuk membuka akses pasar baru di kawasan lain yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
“Diversifikasi pasar ekspor penting agar kita tidak terlalu bergantung pada satu atau dua negara. Ini juga mengurangi risiko akibat ketegangan geopolitik maupun perlambatan ekonomi global,” katanya.
Sebagai langkah awal, Rachmat Gobel meminta pemerintah segera mengundang para eksportir nasional, termasuk pelaku UMKM yang telah berhasil menembus pasar internasional. Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang untuk menyatukan pandangan sekaligus merumuskan strategi bersama dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
UMGO Pecat Dosen Magfirah Makmur Secara Tidak Hormat, Rektor: Telah Mencoreng Citra Kampus
“Sinergi ini sangat penting dalam rangka menyatukan energi nasional demi persatuan dan ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.
Dalam pandangan Rachmat Gobel, salah satu persoalan mendasar yang harus segera dibenahi adalah rendahnya kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional. Padahal sektor ini memiliki peran dominan dalam struktur ekonomi Indonesia.
Data yang ia paparkan menunjukkan bahwa UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan menyumbang hampir 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun kontribusi sektor tersebut terhadap total ekspor Indonesia masih berada di kisaran 15 persen.
“Terjadi paradoks. Kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional sangat besar, tetapi kontribusinya terhadap ekspor masih sangat rendah. Pemerintah harus membantu mereka agar bisa masuk ke pasar global,” kata Rachmat.
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara Asia yang dinilai lebih berhasil mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai perdagangan internasional. Di Jepang, misalnya, kontribusi UMKM terhadap ekspor mencapai sekitar 50 persen. Sementara di China bahkan menyentuh angka 70 persen.
Menurut Rachmat Gobel, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor UMKM melalui berbagai produk unggulan seperti makanan olahan, rempah-rempah, fesyen, furnitur, produk herbal, kerajinan tangan, produk halal, hingga sektor ekonomi kreatif.
Untuk mempercepat langkah tersebut, ia meminta pemerintah memperluas akses pembiayaan melalui kredit ekspor, menyediakan skema asuransi perdagangan yang lebih kuat, serta memberikan berbagai insentif perpajakan bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor.
Kampanyekan Keselamatan Jalan, Jasa Raharja dan Ditlantas Gorontalo, Bagi-Bagi Helm
“Kalau ekspor meningkat, devisa bertambah. Semakin banyak dolar yang masuk ke Indonesia, semakin kuat pula posisi rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, Rachmat Gobel juga menyoroti tingginya arus impor yang menurutnya dapat menggerus cadangan devisa dan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ia meminta pemerintah lebih tegas mengendalikan impor, terutama terhadap produk yang sebenarnya sudah mampu diproduksi oleh industri dalam negeri.
Menurutnya, perlindungan terhadap pasar domestik merupakan langkah strategis yang juga dilakukan oleh banyak negara besar. Ia bahkan menyoroti masuknya produk tekstil dan garmen bermotif budaya Indonesia dari luar negeri yang dinilai merugikan industri lokal.
“Pasar Indonesia yang besar adalah aset strategis. Jangan sampai kita justru menghancurkan pasar kita sendiri,” katanya.
Di penghujung pernyataannya, Rachmat Gobel mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada sektor pertambangan bukanlah fondasi ekonomi yang berkelanjutan. Selain bersifat padat modal, sektor tersebut juga relatif terbatas dalam menciptakan lapangan kerja dibanding industri manufaktur dan UMKM.
Karena itu, ia meminta pemerintah mulai menggeser orientasi pembangunan ekonomi ke arah yang lebih berkelanjutan dengan memperkuat sektor industri, UMKM, dan pangan.
“Kita harus berpikir jangka panjang, membangun pemerataan ekonomi, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan fondasi ekonomi yang kuat, indeks saham maupun kurs rupiah tidak mudah diguncang oleh spekulan,” kata Rachmat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow