Said Abdullah Soroti Rupiah Nyaris Rp18.000, Desak Pemerintah Segera Bertindak
Beranda Nasional Said Abdullah Soroti Rupiah Nyaris Rp18.000, Desak Pemerintah Segera Bertindak
Ulanda.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran di berbagai kalangan. Tekanan terhadap mata uang nasional itu tak hanya memengaruhi pasar valuta asing, tetapi juga menyeret kinerja pasar modal yang mengalami koreksi cukup dalam.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menilai kondisi yang terjadi saat ini tidak bisa dipandang sebagai gejolak biasa. Menurut dia, pemerintah bersama otoritas moneter harus segera memperkuat koordinasi agar tekanan terhadap rupiah tidak berlanjut dan memicu ketidakpastian yang lebih luas di sektor keuangan.
“Pelemahan rupiah hari ini menyentuh batas level psikologis,” kata Said Abdullah dalam keterangannya, Jumat, 5 Juni 2026.
Ia menyoroti bahwa dampak pelemahan mata uang nasional mulai terlihat pada pergerakan pasar keuangan domestik. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami tekanan signifikan.
“Pasar keuangan kita, khususnya di bursa, sekarang indeks harga saham gabungan minus sekitar 3,04 persen,” ujarnya.
Gunung Rinjani Ditutup Sementara, Tiga Turis Asing Jadi Korban Kecelakaan
Menurut Said, pelemahan rupiah tidak semata-mata disebabkan oleh persoalan fundamental ekonomi nasional. Ia justru menilai kondisi saat ini menunjukkan adanya tekanan yang membuat nilai tukar rupiah bergerak jauh dari nilai wajarnya.
“Persoalannya ini bukan sekadar fundamental ekonomi saja. Dari sisi nilai rupiah, sebenarnya sudah undervalue,” kata politikus PDI Perjuangan itu.
Ia bahkan menyebut bahwa berdasarkan berbagai indikator ekonomi yang ada, nilai tukar rupiah seharusnya tidak bergerak melewati batas tertentu.
“Rupiah itu seharusnya paling tinggi maksimal tidak boleh melebihi batas di Rp17.600 per dolar AS,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan kekhawatiran DPR terhadap pergerakan rupiah yang dinilai semakin menjauh dari level yang dianggap mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya. Apalagi, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, memicu inflasi, serta mengurangi daya beli masyarakat jika berlangsung dalam jangka panjang.
Karena itu, Said meminta pemerintah dan Bank Indonesia tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi situasi saat ini. Ia menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter agar pasar mendapatkan sinyal kuat bahwa pemerintah memiliki strategi yang jelas untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Fakta Uang Baru Rp80 Ribu dan Rp250 Ribu 2025!
“Saya sungguh berharap sejak awal ada sinergi bauran fiskal dan moneter,” katanya.
Menurut dia, forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai wadah koordinasi lintas lembaga dalam merumuskan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
“Dalam forum KSSK, manfaatkan itu sebaik-baiknya sambil mulai membenahi tata kelola kebijakan fiskal,” ujarnya.
Selain meminta langkah konkret dari pemerintah, Said juga berupaya menenangkan pelaku usaha dan investor yang mulai mencermati perkembangan pasar keuangan nasional. Ia menilai kepercayaan investor menjadi faktor penting yang harus dijaga di tengah meningkatnya tekanan eksternal maupun domestik.
“Kami berharap kepada para pelaku usaha dan investor bahwa kita akan membangun optimisme,” kata Said.
Namun optimisme tersebut, lanjut dia, harus dibarengi dengan tindakan nyata dari pemerintah dalam mengantisipasi pelemahan rupiah yang terjadi secara berkelanjutan.
Tangis Relawan Indonesia Palestina Pecah Usai Pulang dari Israel: “Kami Dipukul dan Disetrum”
“Kami meminta pemerintah untuk melakukan mitigasi terhadap terus-menerusnya pelemahan rupiah ini,” ujarnya.
Pernyataan Ketua Banggar DPR RI itu muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pergerakan kurs rupiah yang terus tertekan terhadap dolar AS. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama ketika pasar global masih dibayangi ketidakpastian dan tingginya volatilitas arus modal.
Bagi pelaku usaha, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepastian bisnis. Sementara bagi masyarakat, pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan harga berbagai barang yang bergantung pada bahan baku maupun produk impor.
Karena itu, berbagai pihak kini menantikan langkah lanjutan pemerintah, Bank Indonesia, dan KSSK untuk memastikan gejolak nilai tukar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian nasional. Dengan rupiah yang terus bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar akan menjadi ujian penting dalam beberapa waktu ke depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow