Bonus Demografi Menanti, Pemkot Gorontalo Dorong Pemuda Bangun UMKM
Beranda Daerah Pemkot Gorontalo Bonus Demografi Menanti, Pemkot Gorontalo Dorong Pemuda Bangun UMKM
Ulanda.id — Bonus demografi bisa menjadi peluang besar bagi Kota Gorontalo, tetapi juga dapat berubah menjadi beban jika tidak diikuti dengan produktivitas. Pemerintah Kota Gorontalo kini mendorong generasi muda mengambil posisi sebagai pelaku ekonomi, bukan sekadar penerima program.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Gorontalo, Irwansyah D.A. Taha, mengatakan besarnya populasi usia produktif harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi. Salah satu ruang yang dinilai paling terbuka adalah sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Pernyataan itu disampaikan Irwansyah setelah menghadiri Temu Pemuda dan Sidang Pleno DPD II KNPI Kota Gorontalo di Kelurahan Tenda, Senin (24/8/2026).
“Yang dibutuhkan adalah peran pemuda saat ini. Kita tahu persis ada bonus demografi, di mana usia produktif lebih besar dibandingkan usia lainnya. Ini tentu harus mampu diambil peluangnya oleh pemuda,” ujar Irwansyah.
Menurut dia, bonus demografi tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Jumlah penduduk usia produktif harus dibarengi kemampuan menciptakan lapangan kerja, membangun usaha, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Koperasi Merah Putih Terbentur Lahan, Pemkot Gorontalo Putar Otak Cari Lokasi Strategis
Karena itu, Irwansyah berharap forum kepemudaan tidak berhenti pada diskusi. Temu Pemuda, kata dia, seharusnya menjadi ruang untuk melahirkan gagasan yang kemudian diterjemahkan menjadi aktivitas nyata.
Pemerintah Kota Gorontalo, menurut dia, telah membuka sejumlah ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha. Generasi muda diminta tidak ragu memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Peluang yang diberikan pemerintah kota itu lebih besar bagaimana pemuda diberi ruang untuk berusaha, menjadi benar-benar pemuda yang produktif,” katanya.
Anak Muda Mulai Kuasai UMKM
Irwansyah melihat tanda-tanda perubahan tersebut mulai terlihat. Semakin banyak anak muda yang memilih masuk ke dunia usaha dan mengembangkan kreativitas sebagai sumber penghasilan.
Ia mencontohkan kegiatan lomba barista yang pernah digelar pemerintah. Dari kegiatan itu, Disparpora menemukan bahwa sebagian besar peserta berasal dari kalangan muda yang sudah menjalankan usaha.
“Berdasarkan data yang kami kumpulkan saat lomba barista, ternyata sebagian besar adalah generasi muda sebagai pelaku-pelaku UMKM yang ada di Kota Gorontalo,” ungkapnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa UMKM tidak hanya menjadi sektor ekonomi bagi kelompok masyarakat tertentu. Bagi generasi muda, usaha kuliner, kopi, ekonomi kreatif, jasa, hingga berbagai bisnis berbasis kreativitas dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian.
Akun “Gorontalo Bisa” Gunakan Logo Daerah, Pemkot Klarifikasi: Bukan Akun Resmi
Geliat tersebut juga dinilai berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi Kota Gorontalo. Karena itu, Irwansyah berharap KNPI dan organisasi kepemudaan lainnya tidak kehilangan peran dalam mengarahkan energi anak muda ke kegiatan produktif.
Forum diskusi dan temu pemuda, kata dia, perlu diperbanyak dengan pembahasan yang menyentuh persoalan nyata: bagaimana memulai usaha, memperluas pasar, meningkatkan kualitas produk, serta memanfaatkan program pemerintah.
Anggaran Pemuda Tertekan
Dorongan kepada pemuda untuk bergerak mandiri muncul ketika pemerintah daerah juga menghadapi keterbatasan fiskal.
Irwansyah mengatakan program pembinaan kepemudaan telah masuk dalam Rencana Strategis Disparpora. Namun, kemampuan pemerintah untuk menyediakan anggaran khusus bagi kegiatan kepemudaan ikut terpengaruh kondisi keuangan daerah.
“Kalau pertanyaannya dukungan anggaran, saat ini dengan kondisi keuangan sangat terbatas, tetapi tetap berusaha untuk bisa dialokasikan,” jelasnya.
Ia mengatakan pemangkasan Dana Alokasi Umum (DAU) turut berdampak terhadap kemampuan pemerintah daerah menjalankan program melalui organisasi perangkat daerah.
“Kalau Kota Gorontalo, kalau tidak salah sekitar Rp137 miliar yang dipotong. Kalau sudah Rp137 miliar yang dipotong, maka kegiatan pasti dirasakan oleh kita semua yang ada di OPD teknis. Dukungan untuk setiap kegiatan pasti berkurang, bahkan bisa saja hilang,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak bisa menjadikan bantuan anggaran sebagai satu-satunya instrumen pembinaan pemuda. Program yang telah tersedia melalui berbagai OPD justru perlu dimanfaatkan secara lebih luas.
Irwansyah menegaskan tidak semua dukungan pemerintah harus berbentuk program yang secara khusus diberi label kegiatan kepemudaan. Program pemberdayaan masyarakat, termasuk UMKM, tetap dapat dimanfaatkan generasi muda.
“Kalau untuk kegiatan yang langsung menyebutkan kegiatan kepemudaan, tidak. Tapi semua program pemerintah daerah melalui OPD teknis yang sasarannya ke masyarakat tentu tidak lepas juga dari pemuda,” katanya.
Pada akhirnya, bonus demografi Gorontalo tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak anak muda yang berada dalam usia produktif. Tantangannya adalah bagaimana kelompok usia tersebut mampu menghasilkan nilai ekonomi dan sosial.
Pemerintah bisa menyediakan ruang, tetapi pemuda harus berani masuk dan mengolahnya menjadi peluang.
“Pemerintah sudah memberikan ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya. Tinggal dari pemuda itu sendiri yang harus bisa menangkap peluang yang telah disediakan,” pungkas Irwansyah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow