Hp Murah Baterai Besar Hanya 300 Ribuan Masihkah Layak Dipakai

Smallest Font
Largest Font

Menemukan hp murah baterai besar di pasar sekunder saat ini sering kali membawa ingatan kita pada persaingan ketat kelas entri beberapa tahun lalu.

Ketika saya menggenggam kembali Xiaomi Redmi 8A Pro hari ini, ada rasa nostalgia sekaligus pembuktian nyata tentang bagaimana perangkat esensial bertahan melewati waktu.

Ponsel yang pertama kali menyapa konsumen Indonesia pada April 2020 ini awalnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan harian tanpa menguras dompet.

Melihat harganya yang kini menyusut drastis di pasar bekas, ekspektasi kita tentu harus disesuaikan dengan realitas kebutuhan digital masa kini.

Apakah perangkat yang dahulu populer sebagai hp redmi harga 1 jutaan tahun 2020 ini masih bisa diandalkan, atau justru sudah menjadi beban digital?

Mari kita bedah secara mendalam lewat pengalaman nyata saya menggunakan kembali perangkat ikonik ini.

Saat pertama kali mengambil ponsel ini dari meja, hal pertama yang langsung terasa di tangan saya adalah bobot dan ketebalannya.

Dengan berat mencapai 188 gram dan ketebalan fisik 9,4 mm, Xiaomi Redmi 8A Pro terasa sangat solid dan berisi.

Dimensi fisiknya yang berada di angka 156.5 x 75.4 x 9.4 mm membuat genggaman terasa mantap, tidak terasa licin atau ringkih.

Material plastik polikarbonat di bagian belakang memiliki tekstur garis-garis mikro yang sangat membantu meminimalkan bekas sidik jari.

Sentuhan desain penutup belakang ini menunjukkan bahwa perangkat murah tidak selamanya harus terlihat murahan atau terasa ringkih saat ditekan.

Meskipun demikian, ketebalan hampir 10 mm ini tentu terasa agak masif jika dibandingkan dengan standar ponsel zaman sekarang yang serba tipis.

Namun, ketebalan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah kompromi desain demi menampung komponen penyuplai daya yang sangat besar.

Bagaimana performa visual dari dimensi bodi yang cukup tebal ini ketika layarnya mulai dinyalakan?

Layar IPS LCD yang Cukup Nyaman di Dalam Ruangan

Ketika saya menyalakan layarnya, panel IPS LCD berukuran 6.22 inci langsung menampilkan visual dengan rasio aspek 19:9.

Resolusi layarnya berada di tingkat 720x1520 piksel dengan kerapatan piksel yang hanya mencapai kisaran 270 ppi.

Untuk penggunaan di dalam ruangan, tingkat kecerahan puncak yang mencapai 400 nits sudah lebih dari cukup untuk membaca teks.

Rasio layar-ke-bodi sekitar 81.8% memberikan ruang pandang yang lumayan lega meski poni bermodel tetesan air masih terlihat mencolok.

Saat dipakai menonton video, reproduksi warnanya tergolong natural, khas panel IPS kelas entri yang tidak terlalu matang.

Namun, tantangan besar baru muncul ketika saya membawa perangkat ini berjalan-jalan di bawah terik matahari siang.

Tingkat kecerahan 400 nits terasa kewalahan mempertahankan keterbacaan layar, sehingga saya harus sering berteduh atau menutupinya dengan tangan.

Keterbatasan visual di luar ruangan ini memicu pertanyaan penting mengenai ketahanan fisiknya secara keseluruhan.

Bodi plastiknya yang tebal memberikan rasa aman yang jarang ditemukan pada ponsel modern yang tipis dan rapuh.

Banyak pengguna yang penasaran dan melontarkan pertanyaan seperti "apakah redmi 8a pro anti air" demi memastikan daya tahannya.

Berdasarkan data teknis dari GSM Arena, ponsel ini hanya dibekali lapisan pelindung cipratan air nano-coating, bukan sertifikasi IP rating resmi.

Artinya, ponsel ini aman dari rintik hujan ringan, tetapi dipastikan akan rusak jika sengaja ditenggelamkan ke dalam air.

Setelah memahami batasan layar dan ketahanan fisiknya, mari kita ulas bagian yang menjadi dapur pacu utama perangkat ini.

HP Redmi 8A Pro 300 ribuan masih layak dipake | GadgetIn

Menakar Ketangguhan Chipset Delapan Inti Lawas

Dapur pacu Xiaomi Redmi 8A Pro digerakkan oleh chipset prosesor delapan inti dengan arsitektur Cortex A53 berkecepatan hingga 2.0 GHz.

Unit yang saya uji ini menggunakan fabrikasi 12nm, dipadukan dengan pilihan RAM 2GB atau 3GB serta penyimpanan internal sebesar 32GB.

Ketika saya menggunakannya untuk navigasi antarmuka dasar dan membuka aplikasi pesan instan, prosesnya berjalan dengan ritme yang santai.

Keterbatasan RAM yang kecil membuat manajemen aplikasi di latar belakang terasa sangat ketat dan agresif mematikan proses.

Saat mencoba berpindah dari aplikasi peta digital ke browser, saya sering menemukan aplikasi sebelumnya harus memuat ulang dari awal.

Penyimpanan internal 32GB juga menjadi batas pembatas yang sangat menyesakkan jika Anda gemar mengunduh banyak aplikasi media sosial.

Untungnya, Xiaomi masih menyediakan slot kartu memori eksternal terdedikasi untuk memperluas ruang penyimpanan foto dan dokumen Anda.

Bagi Anda yang berencana membelinya, sangat disarankan untuk berburu varian RAM 3GB demi mendapatkan ruang bernapas yang lebih lega.

Lalu, bagaimana dengan sektor keamanan yang sering menjadi parameter krusial dalam memilih ponsel harian?

Sistem Keamanan Biometrik Tanpa Pemindai Fisik

Satu hal yang sering membuat calon pembeli bingung adalah ketiadaan area bundar di bagian belakang bodi perangkat ini.

Masyarakat sering mencari tahu dengan mengetikkan kalimat "redmi 8a pro ada sidik jari gak" di mesin pencarian untuk memastikannya.

Jawabannya adalah tidak ada, ponsel ini sama sekali tidak memiliki sensor pemindai sidik jari fisik di bagian mana pun.

Sebagai gantinya, Xiaomi mengandalkan optimasi kamera depan untuk mendeteksi wajah sebagai sistem pengaman utama perangkat.

Saya pun mencoba mencari tahu "cara aktifkan face unlock redmi" melalui menu setelan keamanan untuk menguji keandalannya.

Proses pendaftaran wajah berjalan cepat, dan dalam kondisi cahaya ruangan yang terang, fitur ini mampu membuka kunci layar dengan mulus.

Namun, karena hanya berbasis kamera dua dimensi tanpa sensor inframerah, performanya langsung merosot tajam saat kondisi ruangan gelap gulita.

Absennya sensor sidik jari ini memicu pertanyaan tentang apa saja pembeda utama model ini dengan saudara kandungnya.

Memahami Perbedaan Utama Antara Dua Saudara Kandung

Bagi sebagian orang, melihat jajaran produk Xiaomi di kelas bawah sering kali menimbulkan kebingungan tersendiri.

Pertanyaan mengenai "beda redmi 8a dan 8a pro" kerap muncul karena kedua ponsel ini sekilas terlihat identik.

Perbedaan paling mendasar terletak pada sektor konfigurasi kamera belakang dan desain visual tekstur penutup bodinya.

Model Pro membawa peningkatan berupa kamera ganda di bagian belakang, sementara varian standar hanya mengandalkan satu kamera tunggal.

Desain casing belakang versi Pro juga mengadopsi motif X-line yang memberikan tekstur cengkeraman yang lebih terasa di telapak tangan.

Untuk memudahkan pemahaman Anda mengenai perbedaan spesifikasi teknis dan detail fisiknya, saya telah merangkum datanya secara terstruktur.

Berikut adalah perbandingan data spesifikasi lengkap yang bersumber dari catatan resmi pabrikan dan data GSM Arena.

Spesifikasi Teknis Lengkap Xiaomi Redmi 8A Pro
Komponen SpesifikasiDetail Karakteristik Perangkat
Chipset UtamaDelapan Inti Cortex A53 2.0 GHz
Kapasitas RAM2GB / 3GB
Memori Internal32GB (Mendukung MicroSD)
Kamera Belakang13MP Utama + 2MP Kedalaman
Kamera Depan8MP Kamera Selfie
Kapasitas Baterai5000mAh
Kecepatan Isi DayaMaksimal 18W
Konektivitas SelulerGSM / HSPA / LTE (4G)

Data di atas memperlihatkan bahwa ponsel ini dirancang dengan racikan spesifikasi yang fokus pada daya tahan jangka panjang.

Bagaimana performa nyata dari konfigurasi kamera ganda tersebut saat dipakai mengambil gambar di kondisi nyata?

Uji Kamera Ganda dalam Berbagai Skenario Cahaya

Sektor kamera belakang Xiaomi Redmi 8A Pro dilengkapi sensor utama resolusi 13MP dan didampingi sensor kedalaman beresolusi 2MP.

Saat saya mencoba mengambil foto pemandangan di luar ruangan pada siang hari, hasil fotonya tampil cukup bersih dengan warna presisi.

Keberadaan sensor kedalaman 2MP terbukti membantu menghasilkan efek kabur (bokeh) yang lumayan rapi pada mode potret manusia.

Perekaman video juga sudah mendukung resolusi hingga 1080p, kendati ketiadaan penstabil gambar membuat rekaman terasa sangat bergoyang saat berjalan.

Masalah mulai terasa sangat mengganggu ketika matahari terbenam dan cahaya lampu ruangan mulai meredup drastis.

Sensor 13MP miliknya mulai kehilangan detail, menghasilkan banyak noise visual, dan fokus kamera menjadi terasa lambat mengunci objek.

Kamera depan 8MP miliknya juga menghasilkan foto selfie yang biasa saja, cenderung flat jika fitur beautify dimatikan.

Namun, kekurangan di sektor kamera ini seolah terbayar lunas ketika kita membahas daya tahan baterainya yang fenomenal.

Daya Tahan Baterai Jumbo yang Sulit Ditandingi

Sektor baterai berkapasitas 5000mAh adalah bintang utama yang membuat ponsel ini tetap memikat bagi segelintir orang.

Ketika saya menggunakannya sebagai perangkat murni untuk tethering hotspot dan memutar musik, dayanya bertahan sangat luar biasa.

Baterai ini dengan mudah melewati waktu dua hari penuh dalam pola penggunaan ringan tanpa perlu menyentuh pengisi daya.

Kemampuan bertahan yang luar biasa ini berkat kombinasi resolusi layar yang rendah dan chipset irit daya Cortex A53.

Ponsel ini juga sudah mendukung pengisian daya cepat maksimal hingga 18W menggunakan konektor modern beraliran USB Type-C.

Sayangnya, kepala pengisi daya yang disertakan dalam paket penjualan bawaannya hanya mendukung keluaran daya sebesar 10W saja.

Jika Anda mengisi daya menggunakan charger bawaan, bersiaplah menunggu hampir tiga jam untuk mengisi dari kondisi kosong hingga penuh.

Kombinasi kapasitas baterai masif dan pengisian daya yang lambat ini menjadi penutup analisis performa perangkat entri ini.

Rekomendasi Realistis untuk Penggunaan di Masa Kini

Membeli Xiaomi Redmi 8A Pro di masa sekarang hanya dibenarkan jika fungsionalitas utama yang Anda cari adalah ketahanan baterai murni.

Ponsel ini sangat cocok dijadikan sebagai perangkat pendamping, mesin hotspot portabel, atau hp operasional khusus untuk menerima panggilan.

Keterbatasan RAM 2GB atau 3GB dan memori internal 32GB membuatnya tidak layak lagi dijadikan sebagai ponsel utama harian Anda.

Aplikasi modern yang semakin rakus memori akan membuat performa chipset delapan inti lawas ini terasa tersengal-sengal dan memicu frustrasi.

Namun, dengan harga bekasnya yang kini berada di kisaran 300 ribuan, ketangguhan baterai 5000mAh dan port USB Type-C miliknya tetap menawarkan nilai guna yang sangat rasional dibandingkan membeli ponsel fitur (feature phone) tanpa sistem operasi cerdas.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed