El Niño Datang, 652 Titik Panas Menyala, 56% Daratan Indonesia Mengering
Beranda Tajuk El Niño Datang, 652 Titik Panas Menyala, 56% Daratan Indonesia Mengering
El Niño kembali datang. Namun, krisis ini bukan sekadar tentang cuaca yang semakin panas atau musim kemarau yang lebih panjang. Di balik angka 652 titik panas dan 56 persen daratan Indonesia yang mulai mengering, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang sesungguhnya paling menanggung dampaknya?
Jawabannya bukan mereka yang tetap bisa bekerja dari ruang berpendingin udara, bukan pula mereka yang hanya mengikuti perkembangan cuaca melalui layar gawai. Dampak paling nyata justru dirasakan oleh para petani yang menyaksikan sawahnya retak karena kekurangan air, nelayan yang kehilangan kepastian melaut akibat perubahan musim, serta masyarakat kecil yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada alam.
Unjuk Rasa Bertarif di Halaman DPRD: Catatan Warga untuk Aksi Aliansi Rakyat Peduli Bone Bolango
Di sinilah persoalan perubahan iklim berubah menjadi persoalan keadilan sosial.
Bencana iklim memang fenomena alam. Namun, siapa yang paling menderita akibat bencana itu sangat ditentukan oleh kebijakan politik. Negara tidak bisa sekadar hadir ketika gagal panen telah terjadi, harga pangan melonjak, atau masyarakat kehilangan mata pencaharian. Kehadiran negara harus dimulai jauh sebelum krisis itu datang, melalui mitigasi, perlindungan sosial, pembangunan irigasi, bantuan bagi petani dan nelayan, hingga kebijakan yang berpihak kepada kelompok paling rentan.
Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi Kursi Lipat
Dalam perspektif itu, El Niño bukan hanya menguji ketahanan lingkungan, tetapi juga menguji keberpihakan pemerintah kepada kaum marhaen.
Ketika petani kehilangan hasil panen, nelayan pulang tanpa tangkapan, dan masyarakat desa harus berebut sumber air bersih, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan hak warga negara untuk hidup layak.
Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi mereka yang berada di garis depan krisis iklim. Sebab, mereka adalah kelompok yang paling sedikit menyumbang kerusakan lingkungan, tetapi justru menanggung beban paling besar ketika bencana datang.
Pertanyaannya kini sederhana, tetapi penting untuk dijawab bersama: apakah negara sudah cukup hadir sebelum krisis itu semakin dalam, atau justru baru bergerak setelah rakyat terlanjur menjadi korban?
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa cepat ekonomi tumbuh, melainkan seberapa kuat negara berdiri di sisi rakyat kecil ketika keadaan paling sulit datang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow