Cesc Fabregas Bawa Como Lolos ke Liga Champions
Pelatih Como, Cesc Fabregas, berhasil membawa klubnya mencetak sejarah baru setelah memastikan tiket kelolosan ke kompetisi Liga Champions untuk kali pertama sepanjang berdirinya klub tersebut. Kepastian tersebut didapat setelah Como meraih kemenangan telak dengan skor 4-1 saat bertandang ke markas Cremonese pada Senin (25-5-2026) dini hari WIB, seperti dilansir dari Bola. Hasil pertandingan ini sekaligus membuat Cremonese terdegradasi, sementara kekalahan AC Milan di San Siro pada saat bersamaan secara resmi memuluskan langkah Como menuju kompetisi antarklub elite Eropa.
Keberhasilan ini melengkapi catatan impresif Fabregas yang dua tahun lalu juga menjadi sorotan saat mengantarkan Como promosi dari kasta kedua atau Serie B.
Pencapaian kali ini terasa luar biasa bagi Fabregas mengingat kondisi awal Como yang dinilai hampir tidak memiliki fondasi klub sepak bola yang memadai. "Saya selalu punya perasaan terhadap banyak hal, bahkan ketika membuat pergantian pemain," kata Fabregas kepada DAZN Italia.
Sebelum melakoni pertandingan krusial, mantan gelandang top Eropa ini mengaku sudah memiliki firasat positif mengenai nasib tim asuhannya. "Sehari sebelum melawan Parma, saya merasa bahwa jika kami meraih dua kemenangan, kami akan lolos ke Liga Champions," imbuh Fabregas.
Demi menjaga motivasi skuad, Fabregas menggunakan pendekatan unik melalui tayangan visual yang menginspirasi kegigihan bertanding. "Saya menunjukkan video seorang pembalap sepeda yang berada di posisi keenam, tetapi dia terus mengayuh pada sprint terakhir dan akhirnya memenangkan balapan," ungkap Fabregas. Metode motivasi tersebut diakui Fabregas sangat mencerminkan konsistensi performa para pemain sepanjang kompetisi musim ini berlangsung.
"Itulah yang kami lakukan musim ini," lanjut Fabregas.
Langkah Como menuju pentas Eropa sejatinya sempat terhambat akibat beberapa hasil minor, termasuk dua kali kalah dan satu kali imbang saat menghadapi Udinese. "Kami tahu harus merangkai kemenangan beruntun, tetapi perasaan kami selalu sama: kami masih ada dalam perlombaan," ucap Fabregas. Meskipun kelolosan timnya ikut dipengaruhi laga tim lain, juru taktik berusia 39 tahun ini menegaskan dirinya tidak memantau skor laga di San Siro maupun Stadio Bentegodi ketika timnya sedang bermain.
Bagi Fabregas yang kaya pengalaman juara saat aktif bermain bersama Arsenal, Barcelona, dan Chelsea, kesuksesan mengarsiteki Como ini menempati posisi spesial.
"Pencapaian ini ada di level paling atas karena cara kami meraihnya," ujar Fabregas. Faktor komposisi skuad yang didominasi oleh pilar-pilar belia menjadi alasan utama di balik rasa bangga sang manajer asal Spanyol tersebut.
"Skuad kami dipenuhi pemain muda. Ada 15 pemain yang semuanya berusia di bawah 23 tahun, jadi ini mahakarya seluruh tim." Kerja keras dan sikap mau belajar dari anak-anak asuhnya diakui menjadi kunci penting dalam peningkatan standar permainan Como.
"Mereka mau mendengarkan, selalu ingin berkembang, dan menaikkan standar pada saat yang tepat," kata Fabregas. Fabregas menggarisbawahi bahwa peran utama tim pelatih adalah memberikan arahan taktis, namun eksekusi utama tetap berada di tangan pemain. "Kami sebagai pelatih hanya mencoba mendorong mereka, memberi pilihan, memberi tahu di mana ruang kosong berada. Tetapi, merekalah yang melakukannya di lapangan," tutur Fabregas.
Kegembiraan ini juga dipersembahkan Fabregas secara khusus kepada seluruh pendukung klub yang berbasis di wilayah Como.
"Saya sangat bahagia untuk masyarakat Como karena mereka pantas merasakan kebahagiaan ini.” Pria kelahiran Spanyol ini kemudian membagikan memorinya saat pertama kali menginjakkan kaki di Como ketika klub masih berkompetisi di Serie B dengan fasilitas yang sangat minim. "Saya selalu mengatakan bahwa saya harus membuat banyak keputusan di sini karena saya praktis diberi kunci untuk mengurus seluruh sisi sepak bola klub,"
Kondisi keterbatasan fasilitas pada masa awal kepemimpinannya diakui menjadi tantangan yang sangat berat.
"Hampir tidak ada apa-apa ketika kami memulai," ungkap Fabregas. Bahkan, Fabregas mengungkapkan fakta bahwa Como pada beberapa tahun lalu belum memiliki tempat atau pusat pelatihan yang representatif.
"Hari ini saya berbicara dengan dua fisioterapis yang sudah bersama kami empat tahun lalu saat saya datang sebagai pemain." Ketiadaan fasilitas tersebut memaksa staf medis melakukan perawatan pemain di tempat yang tidak biasa.
"Waktu itu kami bahkan tidak punya tempat latihan, jadi pijat dilakukan di atas meja di ruang belakang sebuah bar," kenang Fabregas. Transformasi luar biasa ini dirayakan Fabregas sebagai lompatan besar dari klub kecil menuju panggung tertinggi sepak bola Eropa. "Sekarang kami bermain di Liga Champions," ucap Fabregas.
Karier kepelatihan yang baru berjalan 2,5 tahun ini diakuinya telah memberikan banyak ruang untuk perkembangan kapasitas dirinya secara personal.
"Ini baru 2,5 tahun karier saya sebagai pelatih, jadi saya berterima kasih kepada staf yang terus mendorong dan menginspirasi saya." Sifat perfeksionis yang dimilikinya terkadang disadari Fabregas bisa memberikan tekanan tersendiri bagi lingkungan kerjanya. "Saya sadar terkadang sulit diajak bekerja sama, tetapi beginilah hidup saya, selalu ingin melakukan lebih banyak."
Setiap hari yang dilewatinya bersama Como dipandang sebagai proses pembelajaran yang komprehensif layaknya menempuh pendidikan formal.
"Pengalaman ini seperti pergi ke universitas sepak bola setiap hari karena saya harus membuat begitu banyak keputusan." Fabregas menilai proses manajerial yang rumit di Como akan membentuk identitas kepelatihannya secara penuh di masa depan.
"Hari ketika saya pergi dari sini nanti, saat itulah saya benar-benar hanya menjadi seorang pelatih." Di tengah rumor ketertarikan dari deretan klub raksasa Eropa, keberhasilan menembus kompetisi Eropa ini memperbesar peluang bertahannya Fabregas di Italia.
"Saya sangat bahagia di sini," kata Fabregas. Fabregas menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah menikmati proyek jangka panjang yang sedang ia bangun bersama manajemen Como. "Waktu memang penting, tetapi saya benar-benar menikmati apa yang kami bangun di sini."
Hasrat untuk terus meraih prestasi yang lebih tinggi diakui Fabregas sebagai hal yang lumrah dalam dunia sepak bola.
"Kita semua selalu ingin lebih, bukan?" Berusia 39 tahun beberapa pekan lalu membuat Fabregas merasa jalannya di dunia manajerial sepak bola masih membentang sangat panjang. "Hidup masih panjang. Saya baru berusia 39 tahun beberapa pekan lalu."
Fabregas mengutip pandangan dari pelatih legendaris Jose Mourinho mengenai urgensi kesabaran dalam meniti karier sebagai peracik strategi.
"Seperti kata Jose Mourinho, perjalanan menuju usia 80 tahun masih sangat panjang. Itu berarti masih ada 40 tahun pekerjaan lagi." Menurutnya, seorang pelatih tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil langkah karier besar sebelum benar-benar siap.
"Anda tidak boleh terburu-buru dalam pekerjaan. Anda harus sabar dan terus belajar," ucap Fabregas. Fabregas menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa fokus terdekatnya adalah mengawal langkah besar Como yang kini sudah berada di level Liga Champions.
"Ketika suatu hari merasa siap, mungkin Anda akan mengambil langkah berikutnya." Keberhasilan Como ini sekaligus menjadi bukti nyata dari progres signifikan yang dialami klub dalam beberapa tahun terakhir. "Tetapi, yang jelas, Como sudah mengambil langkah besar karena sekarang mereka berada di Liga Champions," kata Fabregas lagi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow