Stargardt Disease Gagalkan Impian Putra Michael Owen Jadi Pesepak Bola

Smallest Font
Largest Font

Cita-cita James Owen untuk mengikuti jejak karier sang ayah di dunia sepak bola profesional harus terhenti sejak usia delapan tahun. Kebutaan klinis menimpa putra legenda sepak bola Inggris tersebut akibat kelainan genetik langka.

Dilansir dari Bola, James terdiagnosis mengidap Stargardt disease. Kondisi medis ini dipicu oleh penumpukan endapan lemak di area pusat retina yang memicu penurunan fungsi penglihatan sentral secara bertahap.

Kini James telah memasuki usia 20 tahun dan bertumpu pada penglihatan periferal. Tanda awal penyakit ini diketahui sewaktu guru sekolah dasar menyadari kesulitan James saat melihat papan tulis di kelas.

Pemeriksaan medis lanjutan mengonfirmasi kondisi langka yang diperkirakan hanya dialami satu dari 10.000 orang di dunia. Dalam serial dokumenter Meet The Owens, James membagikan pengalamannya beradaptasi dengan keterbatasan fisik tersebut.

"Jelas, tumbuh besar dengan kondisi ini tidak mudah. Saya kesulitan melihat lurus ke depan," ungkap James dalam serial dokumenter "Meet The Owens".

"Orang-orang sering mengira saya tidak sopan karena tidak menjaga kontak mata. Padahal, saya sebenarnya sedang melihat mereka dengan cara yang paling jelas yang saya bisa," lanjutnya.

Bagi peraih Ballon d'Or 2001, kabar mengenai vonis penyakit sang putra menjadi salah satu cobaan terberat dalam hidupnya. Mantan penyerang yang mengoleksi 223 gol dari 483 laga tersebut sempat menepi beberapa kali saat mengemudi karena tak kuasa menahan air mata.

"Ketika pertama kali dia didiagnosis, saya ingat sampai tiga atau empat kali harus menepikan mobil karena menangis. Saya berpikir, seperti apa kehidupannya nanti?" ujar Owen.

Mantan pemain Liverpool, Newcastle United, Real Madrid, Manchester United, dan Stoke City ini terus mendampingi putranya. Ia mendorong James agar selalu berpikir positif dan pantang mengasihani diri sendiri.

"Saya ingin dia tidak mengasihani dirinya sendiri dan memiliki pandangan positif terhadap kehidupan," ujar Owen.

Kemampuan James untuk menertawakan keterbatasan diri sendiri menjadi hal yang paling diapresiasi oleh sang ayah. Sikap mental positif tersebut kian mempererat ikatan emosional di antara keduanya.

"Cara James menertawakan dirinya sendiri adalah hal yang paling saya sukai darinya. Hal-hal kecil seperti itu membuat kami sangat dekat," tutur pengoleksi 223 gol dalam 483 penampilan sepanjang kariernya bersama Liverpool, Newcastle United, Manchester United, Real Madrid, dan Stoke City tersebut.

Proses menerima kenyataan pahit sempat berjalan sulit bagi James. Kehilangan kesempatan mengejar impian masa kecil di lapangan hijau memberikan rasa sedih yang mendalam.

"Impian saya adalah mengikuti jejak ayah dan menjadi pesepak bola dengan karier yang sangat hebat," kata James.

"Ketika menyadari bahwa hal itu tidak mungkin, rasanya sangat menyakitkan. Dulu, setiap pulang sekolah, saya sering menangis dan merasa hidup ini tidak adil," imbuhnya.

Masa depan James kini diarahkan pada bidang lain. Michael memproyeksikan sang putra untuk mengelola fasilitas pacuan dan pembiakan kuda milik keluarga, Manor House Stables, yang berlokasi di dekat Chester.

"Saya akan sangat senang. Saya pikir dia memiliki semua kualitas untuk menjadi aset di tempat ini. Namun, dia harus memberikan kontribusi. Ini bukan badan amal," ujar Michael dengan nada bercanda.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow