Jurgen Klopp Resmi Latil Timnas Jerman dengan Pemotongan Gaji Besar

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) resmi menunjuk Jurgen Klopp sebagai pelatih kepala Timnas Jerman dengan durasi kontrak empat tahun pada Jumat (24/7/2026). Dikutip dari Bola, langkah ini diambil guna mengisi posisi yang ditinggalkan Julian Nagelsmann usai Jerman tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 lewat adu penalti melawan Paraguay. Pengangkatan ini menandai babak baru bagi mantan juru taktik Liverpool tersebut, yang untuk pertama kalinya bakal menangani sebuah tim nasional.

Sebelum menerima tawaran negara kelahirannya, pelatih berusia 59 tahun itu sempat beristirahat usai menyudahi sembilan tahun masa bakti di Anfield pada 2024, lalu menjabat sebagai Head of Global Soccer Red Bull sejak awal 2025. Laporan Give Me Sport menyebutkan bahwa kepindahan ke skuad Der Panzer membuat Klopp harus menerima pemotongan penghasilan yang cukup signifikan. Dalam kesepakatan hingga Piala Dunia 2030 ini, ia diperkirakan kantongi upah sekitar 7 juta euro (sekitar Rp142,7 miliar) saban tahun.

Nilai tersebut sejatinya tetap menempatkan nama Klopp di jajaran pelatih tim nasional berbayaran teratas di dunia. Namun, angka itu terpaut jauh dari nominal yang ia dapatkan pada musim terakhirnya bersama The Reds, yang mana ia menerima 15 juta paun (Rp305,8 miliar) per tahun atau lebih tinggi dari 50 persen.

Bahkan, pendapatan tahunan Klopp saat bertugas di balik layar Red Bull masih lebih tinggi ketimbang gajinya di DFB. Jabatan non-lapangan tersebut dilaporkan memberinya pemasukan berkisar antara 10 juta hingga 12 juta euro (Rp203,8-Rp244,6 miliar) per tahun.

Perbedaan Ekonomi dan Beban Kerja

Perbedaan jurang gaji tersebut tidak berkaitan dengan rekam jejak maupun kualitas sang pelatih. Hal itu murni disebabkan oleh perbedaan struktur finansial serta roda ekonomi antara klub sepak bola modern dan federasi.

Klub papan atas seperti Liverpool memiliki pendapatan melimpah yang bersumber dari tiket pertandingan harian, hak siar, dan kerja sama komersial. Di sisi lain, pemangkasan ini juga merefleksikan perbedaan beban kerja, di mana juru taktik klub harus mendampingi tim sepanjang musim, sedangkan pelatih tim nasional hanya berkumpul dengan pemain pada periode pemusatan latihan yang terbatas.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed