Hp Xiaomi Android Murni Pernah Merajai Pasar Ini Rahasia Spek Mi A1
Keputusan Google meluncurkan platform bersama pada tahun 2014 menjadi awal mula lahirnya hp xiaomi android murni yang sempat menggegerkan pasar global. Saya ingat betul bagaimana antusiasme pencinta gadget ketika raksasa teknologi China ini memutuskan keluar sejenak dari zona nyaman MIUI mereka.
Langkah berani tersebut terwujud nyata saat mereka memperkenalkan Xiaomi Mi A1 secara global pada 5 September 2017. Gawai ini menjadi pionir yang membawa angin segar bagi konsumen yang mendambakan performa bersih tanpa gangguan iklan.
Sebagai Senior Reviewer, saya melihat perangkat ini bukan sekadar produk eksperimental biasa di masanya. Kerja sama dengan Google menempatkan proyek ini dalam posisi yang sangat strategis untuk menggaet pasar pemula hingga menengah.
Melihat kembali postur fisik Xiaomi Mi A1, dimensi perangkat ini terasa sangat proporsional di genggaman tangan. Perangkat ini dirancang dengan tinggi 155,40 mm, lebar 75,80 mm, serta ketebalan yang cukup tipis yaitu hanya 7,30 mm.
Bobotnya yang berada di angka 165,00 gram membuat ponsel ini sangat nyaman dibawa bepergian tanpa membebani saku celana. Saya menilai rancang bangun fisik ini menjadi salah satu daya tarik utama yang membuatnya terasa ergonomis.
Pada sektor visual, Xiaomi menyematkan layar sentuh IPS LCD berukuran 5,5 inci yang sudah mengusung resolusi Full HD 1080p. Proteksi layar juga tidak main-main karena sudah dilapisi oleh kaca tangguh Gorilla Glass 3 untuk mencegah goresan ringan.
Dapur Pacu Legendaris Snapdragon 625
Berbicara soal performa, isi jeroan dari Xiaomi Mi A1 ini ditenagai oleh prosesor Qualcomm Snapdragon 625 yang dibangun dengan pabrikasi 14nm FinFET. Chipset ini membawa 8 core Cortex-A53 yang memiliki kecepatan komputasi hingga 2.0 GHz.
Urusan pengolahan grafis diserahkan kepada GPU Adreno 506 dengan clock speed berada di angka 650 MHz. Kombinasi komponen ini terkenal sangat efisien dalam mengonsumsi daya namun tetap memberikan performa harian yang stabil.
Sektor penyimpanan didukung oleh RAM sebesar 4 GB serta pilihan memori internal eMMC 5.1 berkapasitas 32 GB atau 64 GB. Pengguna juga masih bisa memperluas ruang penyimpanan lewat slot hybrid microSD yang mendukung kapasitas hingga 128 GB.
Sensor Lengkap dan Konektivitas
Meskipun menyasar kelas menengah, kelengkapan sensor yang dibawa oleh perangkat Android One pertama Xiaomi ini terhitung sangat royal. Xiaomi tidak memangkas sensor-sensor penting demi menekan harga jual ke konsumen.
Perangkat ini sudah dilengkapi pemindai sidik jari pada bagian bodi belakang, kompas magnetometer, sensor proksimitas, serta akselerometer. Selain itu, hadir pula sensor cahaya sekitar, giroskop, inframerah untuk remote, dan Hall Sensor.
Beda Xiaomi Mi A1 dan Mi 5X yang Sering Membingungkan
Banyak konsumen di tanah air yang sempat bingung membedakan antara perangkat Xiaomi Mi A1 dengan kembarannya. Pada dasarnya, Xiaomi Mi 5X merupakan versi lokal yang dirilis khusus untuk pasar China pada bulan Juli 2017.
Perbedaan paling mendasar dan mutlak di antara keduanya terletak pada sektor perangkat lunak yang dijalankan. Xiaomi Mi 5X menggunakan antarmuka MIUI khas Xiaomi, sedangkan saudaranya mengusung sistem operasi Android polosan dari Google.
Dari segi ketersediaan wilayah pemasaran, Xiaomi Mi A1 disebar secara global ke total 37 pasar atau negara di seluruh dunia. Ponsel Android One ini tersedia di seluruh jaringan pasar resmi Xiaomi saat itu, kecuali di Republik Rakyat China.
Berikut adalah tabel ringkasan untuk melihat kesamaan komponen inti dari kedua perangkat besutan vendor Tiongkok tersebut.
| Komponen Utama | Xiaomi Mi A1 | Xiaomi Mi 5X |
|---|---|---|
| Chipset | Qualcomm Snapdragon 625 | Qualcomm Snapdragon 625 |
| Kapasitas RAM | 4 GB | 4 GB |
| Jenis Layar | IPS LCD 5,5 Inci | IPS LCD 5,5 Inci |
| Resolusi | Full HD 1080p | Full HD 1080p |
| Kapasitas Baterai | 3.080 mAh | 3.080 mAh |
Kelebihan dan Kekurangan Mi A1 dalam Penggunaan Harian
Menilai sebuah ponsel tentu tidak akan objektif tanpa membedah kelebihan dan kekurangan mi a1 secara mendalam. Nilai plus utama jelas ada pada sektor kamera belakang yang membawa konfigurasi dual kamera premium di kelasnya.
Kamera belakangnya memadukan modul utama 12 MP dengan sensor berukuran 1/2.9 inci, piksel 1.25 mikrometer, serta bukaan f/2.2. Kamera kedua merupakan lensa telephoto 12 MP dengan ukuran piksel 1.0 mikrometer dan bukaan lensa f/2.6.
Kombinasi dua kamera belakang ini mampu menghasilkan kemampuan 2x optical lossless zoom, autofokus cepat, lampu kilat two-tone, serta dukungan lensa 5-piece.
Untuk perekaman video, kamera utamanya sanggup merekam hingga resolusi 4K pada kecepatan 30 fps serta format HD. Sementara untuk kebutuhan swafoto, kamera depan dibekali lensa beresolusi 5 MP dengan ukuran piksel 1.12 mikrometer dan bukaan f/2.
Sistem operasi bawaan saat pertama kali dirilis adalah Android 7.1 Nougat atau versi 7.1.2 Nougat yang bersih. Pengguna mendapatkan jaminan pembaruan OS minimal selama 2 tahun, sehingga perangkat ini bisa ditingkatkan secara resmi hingga Android 9 Pie.
Namun, sektor daya menjadi salah satu kelemahan yang menurut saya cukup mengganggu untuk mobilitas tinggi. Kapasitas baterai sealed atau tertanam di dalamnya hanya sebesar 3.080 mAh yang terasa pas-pasan.
Pengisian dayanya hanya dibekali charger bawaan 10W yang membutuhkan waktu 30 menit untuk mengisi dari 0% hingga 30%. Meskipun demikian, GSM Arena mencatat rating ketahanan baterai totalnya masih sanggup mencapai 87 jam.
Kenapa HP Xiaomi Android One Gagal di Pasaran
Melihat ke belakang, banyak orang bertanya-tanya mengenai nasib kelanjutan dari proyek kerja sama ambisius ini. Muncul pertanyaan di kalangan pencinta gadget seperti "kenapa hp xiaomi android one gagal" berkembang di pasaran?
Dilansir dari GSM Arena, lini ponsel Android One dari Xiaomi ini pada akhirnya harus terhenti dan tidak dilanjutkan lagi. Salah satu pemicu utamanya adalah dilema pembaruan perangkat lunak yang sering terlambat dan dipenuhi bug.
Ironisnya, sistem operasi murni yang dijanjikan bakal mendapat pembaruan super cepat justru sering mengalami penundaan rilis. Xiaomi tampaknya kesulitan mengoptimalkan software mentah dari Google untuk perangkat keras mereka sendiri tanpa bantuan tim MIUI.
Selain itu, basis penggemar loyal Xiaomi telanjur menyukai fitur-fitur fungsional dan kustomisasi kaya yang ada di MIUI. Android murni dirasa terlalu polos dan membosankan bagi mayoritas pengguna setia yang terbiasa dengan ekosistem software bawaan mereka.
Persaingan internal dengan lini Redmi yang membawa kapasitas baterai jauh lebih besar juga mempersempit ruang gerak seri Mi A ini. Alhasil, setelah merilis beberapa generasi, proyek kolaborasi Android murni ini resmi dikubur rapat-rapat oleh pihak manajemen.
Langkah menyuntik mati lini ini menegaskan bahwa pasar ponsel global lebih memilih ekosistem software yang matang dan kaya fitur. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi vendor dalam mengelola integrasi perangkat lunak pihak ketiga di masa mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow