Cipta Cendikia FA U-15 Rekrut Belasan Lulusan MilkLife Soccer Challenge

Smallest Font
Largest Font

Cipta Cendikia FA menarik perhatian dalam persaingan kategori U-15 HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026. Klub ini mengandalkan banyak pemain jebolan MilkLife Soccer Challenge dalam komposisi timnya.

Langkah Cipta Cendikia FA dibahas setelah mereka mengarungi kompetisi yang mempertemukan delapan tim terbaik tersebut. Skuad ini merupakan pemenang dari kualifikasi regional Jabodetabek.

Kiprah tim asuhan pelatih Ruly Hidayansyah dipastikan melaju hingga babak puncak, seperti dilansir dari Bola. Pertandingan final mempertemukan mereka dengan Goal Aksis pada Minggu, 12 Juli 2026.

Perjalanan di fase grup dimulai dengan skor imbang 1-1 kontra Goal Aksis pada 6 Juli 2026. Selanjutnya, kemenangan 2-0 diraih saat berhadapan dengan Tigers Football Academy melalui sumbangan gol Albianca Raula dan Yasmin Aprilianti.

Tren positif berlanjut pada pertandingan pamungkas grup dengan menumbangkan Scorpion FC dua gol tanpa balas. Gol kemenangan dicetak oleh Keyla Azzahra Putri Natawidjaya dan Ayla Dva Khala Ahisma.

Tiket final diamankan setelah menundukkan Arema FC Women U-15 dengan skor 2-1 di semifinal. Shilen Nailenka Khanza dan Ayla Dva Khala Ahisma menjadi penentu kemenangan sebelum akhirnya tim menderita kekalahan adu penalti dari Goal Aksis di final.

Manajemen tim menerapkan strategi pembinaan serius dengan memanfaatkan turnamen usia muda. Dari total 21 pemain yang dibawa, terdapat 12 nama yang merupakan lulusan dari ajang MilkLife Soccer Challenge.

Penanggung jawab Cipta Cendikia Football Academy, Intan Fitriani, memberikan penjelasan mengenai perekrutan masif pesepak bola putri ini di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.

"Kami melihat perkembangan sepak bola putri yang luar biasa. Kami melihat talenta sepak bola putri semakin banyak. Jadi kami mengambil momentum itu untuk bisa mengembangkan talenta putri menjadi lebih baik," ujar Intan Fitriani.

Kompetisi usia dini menjadi jembatan bagi klub dalam menyaring bakat-bakat potensial. Para pemain yang direkrut antara lain Andien Haifa Syakira, Albianca Raula, Andara Alisya, Ayla Dva Khala Ahisma, Chasyafa Nur Chasanah, Kalila Fausta Bastian, Keisya Zahira Putri, Khansa Nisa Arrosid, Mifah Putri Mayang Sari, Nafisah Nailal Husna, Shilen Nailenka Khanza, dan Syifa Afiqah Zahra.

Proses perekrutan memiliki cerita tersendiri, seperti yang dialami oleh Ayla Dva Khala Ahisma. Pemain asal Yogyakarta tersebut dipantau langsung oleh staf pelatih sebelum ditawari bergabung ke dalam tim.

"Kami melihat Ayla ketika menjadi pemain MilkLife Soccer Challenge All-Stars dari Yogyakarta. Kemudian kami bertanya mau tidak di bersekolah dan bermain sepak bola di sini, jadi kami dapatkan Ayla," ujar Intan.

"Ayla masuk tim kami karena kami sudah melihat potensinya. Ketika video permainannya dikirim, wah kami mau nih merekrut Ayla. Makanya Ayla baru masuk di HYDROPLUS Soccer League regional Jabodetabek pada putaran kedua," lanjutnya.

Pemain lain, Albianca Raula, juga memutuskan bergabung setelah lulus dari sekolah dasar. Dirinya dipastikan pindah ke Sekolah Cipta Cendikia untuk tahun ajaran 2026/2027.

"Saya baru masuk SMP dan akan bersekolah di Cipta Cendikia. Sudah pasti. Selama ini kalau latihan masih berangkat dari rumah ke Cibinong diantar mama. Nanti kalau sudah sekolah di sana, masuk asrama," ujar Bianca.

Fasilitas beasiswa penuh menjadi daya tarik bagi para atlet muda untuk memantapkan pilihan. Di asrama, para pemain tidak hanya berlatih taktik lapangan tetapi juga mendapatkan program penunjang kebugaran.

"Senin saya suka berenang di Cipta Cendikia, sementara Selasa sampai Rabu saya latihan sepak bola. Kemudian kalau Jumat, saya bisa yoga," cerita Ayla.

Sistem seleksi ketat tetap diberlakukan bagi penerima beasiswa demi menjaga mutu akademis atlet. Pengelola mewajibkan setiap calon pemain melewati rangkaian ujian psikologi.

"Kami berikan full beasiswa. Namun, seiring berjalan waktu, kami menjadi lebih selektif. Mereka yang masuk Cipta Cendikia melalui jalur beasiswa juga harus lolos psikotes," ujar Intan.

"Misi kami adalah menciptakan pemain sepak bola yang berintegritas dan secara akademis juga bagus. Jadi kami menciptakan pemain sepak bola yang cerdas dan memiliki attitude yang baik. Stigma pemain bola selama ini adalah malas belajar dan banyak lainnya, kami mencoba untuk mematahkan itu," tegas Intan.

Metode pembinaan terintegrasi ini sebelumnya telah diterapkan pada sektor putra sejak tahun 2016. Sejumlah alumnus akademi putra berhasil menembus perguruan tinggi negeri di Indonesia.

"Pemain putra kami sudah berhasil. Banyak anak-anak kami yang kemudian masuk UI, masuk ITB, Brawijaya. Oleh karena itu, kami mencoba untuk talenta putri sekarang," ujar Intan.

"Yang penting mau sekolah, lulus psikotes, lulus wawancara, sudah bisa bersekolah di tempat kami," lanjutnya.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed