Cahya Supriadi: Kisah Spiderman Karawang dan Modal Nekat 200 Ribu

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Di bawah mistar gawang, Cahya Supriadi tampak ideal sebagai Spiderman. Tak hanya tatapan yang tajam, kiper kelahiran Karawang, 11 Februari 2003 ini juga memiliki postur menjulang atletis 180 centimeter. Jebolan Akademi Persija Jakarta itu kini menjelma menjadi salah satu kiper lokal yang sangat menjanjikan, bersanding dengan nama-nama seperti Ernando Ari dan Nadeo Argawinata. Di usianya yang masih 23 tahun, kariernya terus melambung tinggi, tidak hanya menjadi andalan di level klub tetapi juga sukses mencuri perhatian bersama Timnas Indonesia.

Kiprahnya yang memukau membawa Cahya melintasi berbagai kelompok umur, mulai dari Timnas Indonesia U-20, U-23, hingga akhirnya menembus skuad timnas senior. Debutnya di bawah bendera Merah Putih tersaji kala memperkuat Timnas Indonesia U-20 kontra Timnas Venezuela U-20 di Turnamen Maurice Revello 2022 di Prancis. Sejak momen itu, namanya kian melambung dan beken di hati pemuja setia timnas. Kapan dan di mana pun timnas bermain, kehadiran sosoknya selalu dinanti.

Namun, kesuksesan yang diraih Cahya tidak jatuh begitu saja dari langit. Kerja keras serta balutan suka dan duka mendalam ikut menghiasi perjalanan panjang kariernya. Mengenal sepak bola lewat sang abang, Cahya mendapat dorongan semangat dan motivasi besar agar bisa sukses meraih mimpi menjadi pesepakbola profesional, melampaui capaian sang kakak.

"Abang saya sendiri mengenalkan sepak bola, karena abang saya enggak bisa naik lagi tingkatan levelnya. Mungkin cuman di kampung-kampung aja," kata Cahya Supriadi.

Pada awalnya, Cahya hanya bermain sepak bola sekadar untuk mengisi keisengan. Sebuah memori pahit bahkan sempat terekam di masa kecilnya, ketika ia menangis tersedu-sedu lantaran tidak disertakan ke dalam tim tingkat RT di sekitar tempat tinggalnya.

"Cuma main-main iseng saja. Terus antar RT saya ikut. Saya pernah nangis.

Enggak dimainin sama Pak RT. Saya enggak dimainin. Maksudnya ikut, daftar gitu kan.

Tapi enggak dimainin sama sekali. Saya balik, menangis. Kemudian saya mengadu ke abang saya," imbuh Cahya Supriadi.

Gara-gara insiden memilukan bagi bocah kecil tersebut, sang kakak langsung mengambil tindakan dengan memasukkannya ke sekolah sepak bola (SSB) demi mengobati kekecewaan sang adik.

"Akhirnya abang saya besoknya langsung cari SSB buat saya. Ketemulah SSB namanya SSB Tunas Pupuk Kujang di Cikampek. Setelah melihat-lihat akhirnya ya sudah coba karena saat itu belum jadi kiper. Ya masih senang-senang," katanya.

Lambat laun, kenyamanan mulai tumbuh dalam diri Cahya saat menimba ilmu di sekolah sepak bola tersebut. Ketertarikan yang semakin mendalam membulatkan tekadnya untuk mengambil keputusan besar, yakni merantau meninggalkan kampung halaman demi mengejar impian yang lebih tinggi di ibu kota negara.

"Terus akhirnya makin ketagihan, makin nyaman di SSB. Setelah itu ya enggak lama dari situ saya langsung ke Jakarta. Dapat tawaran.

Umur 12 tahun saya sudah merantau ke Jakarta. Ke Jakarta gabung Persija," ujar Cahya Supriadi.

Merantau ke Jakarta dengan Modal Seadanya

Bagi Cahya, atmosfer kompetisi di Jakarta jauh lebih padat dan sangat kompetitif, menjadikannya tempat yang sangat ideal untuk terus memburu pengalaman baru. Perkembangannya berjalan positif hingga ia diajak bergabung dengan SSB Ragunan Soccer School untuk mengarungi sengitnya persaingan di Liga Topskor dan Liga Kompas. Dari sanalah, pintu menuju Macan Kemayoran mulai terbuka lebar ketika seorang pelatih bernama Om Jos melihat bakatnya. Sempat gagal dalam seleksi di SKO Ragunan, ia diarahkan untuk mengikuti seleksi Akademi Persija di Sunter, Jakarta Utara.

Mengingat petuah sang abang, Cahya memantapkan diri mengikuti seleksi dengan bekal finansial yang sangat minim di tengah suasana bulan suci Ramadan kala itu.

"Tahun 2018 waktu itu. Dengan modal nekad, itu bulan puasa juga kalau enggak salah, ya sudahlah berangkat saja. Enggak mikirin karena teknologi kan sudah lumayan canggih ya. Saya modal betul cuman Rp200 ribu buat berangkat ke Jakarta," kenangnya.

Keberanian tersebut berbuah manis. Dewi fortuna berpihak kepadanya hingga ia dinyatakan lolos seleksi, walaupun perjuangan berat masih harus ia lalui, termasuk menumpang tinggal di kosan Fajar, salah seorang temannya. Setelah menempa diri bersama Persija, Cahya juga sempat memperkuat klub lain seperti Bekasi City sebelum berlabuh ke PSIM Yogyakarta pada 2015. Dari akademi hingga level profesional, karier kiper asal Karawang ini terus mengalir deras, dan perlahan tapi pasti, ia telah mentransformasikan dirinya menjadi salah satu penjaga gawang yang sangat diperhitungkan di tanah air.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed