UEFA Larang Kartu Merah Langsung untuk Pemain yang Tutup Mulut

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Regulasi baru akan diterapkan pada kompetisi antarklub Eropa musim depan terkait aksi pemain yang menutupi mulut saat berbicara dengan lawan. Kebijakan ini berlaku untuk pertandingan Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League. Melalui pernyataan resmi yang dirilis Kamis, seperti dikutip dari Bola, UEFA mengumumkan bahwa tindakan menutup mulut untuk menyembunyikan percakapan tetap dikategorikan sebagai perilaku tidak sportif.

Wasit pun diberikan wewenang penuh untuk menjatuhkan sanksi berupa kartu kuning. Otoritas tertinggi sepak bola Eropa itu juga menegaskan bahwa sanksi di lapangan tidak menutup kemungkinan adanya proses disipliner lanjutan. Langkah tersebut akan diambil apabila ditemukan pelanggaran lain yang berkaitan dengan insiden tersebut.

Langkah UEFA ini berbeda dengan arahan Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang mendorong penerapan aturan lebih tegas di Piala Dunia 2026. Dalam regulasi FIFA, pemain dapat langsung menerima kartu merah apabila menutup mulut dengan tangan saat berbicara kepada pemain lawan.

Stadion Arrowhead di Kansas City akhirnya terpilih menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 setelah gagal masuk daftar venue pada 1994. Stadion berusia 53 tahun itu dimodifikasi sesuai standar FIFA dan akan menggelar delapan pertandingan, termasuk laga Argentina. Pada implementasinya, Miguel Almiron dari Paraguay tercatat sebagai pemain pertama yang diusir wasit akibat aturan baru versi FIFA tersebut. Bek Ekuador, Piero Hincapie, juga menerima kartu merah karena melakukan pelanggaran serupa saat berbicara dengan lawannya.

Sementara itu, gelandang Timnas Inggris, Jude Bellingham, lolos dari hukuman kartu merah meski sempat terlihat menutup mulut ketika berbicara dengan pemain Ghana. Berdasarkan informasi yang diperoleh ESPN, tindakan Bellingham dinilai tidak dilakukan dalam situasi konfrontatif. Isu mengenai pemain yang menutup mulut saat berbicara dengan lawan sempat menjadi sorotan pada Februari lalu dalam laga Liga Champions. Ketika itu, pemain Benfica, Gianluca Prestianni, menutupi mulutnya menggunakan jersey saat berbicara kepada bintang Real Madrid, Vinicius Junior.

Vinicius kemudian menuding Prestianni melontarkan ucapan bernada rasis. Namun, setelah melakukan penyelidikan, UEFA menyatakan Prestianni terbukti melakukan tindakan anti-gay dan menjatuhkan hukuman larangan bermain selama enam pertandingan.

Perbedaan Regulasi UEFA dan FIFA

Kendati insiden tersebut terjadi di ajang Liga Champions, UEFA memilih untuk tidak mengadopsi aturan FIFA yang memberikan kartu merah langsung untuk pelanggaran serupa. Perbedaan ini menjadi penegasan independensi regulasi kompetisi Eropa.

Selain itu, UEFA memutuskan tidak menggunakan opsi pemberian kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan pertandingan. Opsi tersebut tidak akan diterapkan pada musim mendatang.

Sebaliknya, UEFA akan mulai menerapkan aturan baru yang memungkinkan VAR memeriksa keputusan tendangan sudut yang keliru. Mekanisme peninjauan tersebut sebelumnya sudah digunakan pada Piala Dunia 2026.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed