Pep Guardiola Ungkap Penyesalan Terbesar Selama Latih Manchester City
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, segera menyudahi masa baktinya yang gemilang bersama The Sky Blues pada akhir musim ini. Pengumuman kepergian juru taktik berusia 55 tahun tersebut memicu pembicaraan mengenai warisan kariernya selama satu dekade di Etihad Stadium.
Dilansir dari Bola, Guardiola sukses mempersembahkan total enam trofi Liga Inggris dan satu piala Liga Champions selama menangani tim. Namun, momen perpisahan yang dinantikan di stadion kandang sedikit ternoda setelah Arsenal yang dilatih Mikel Arteta berhasil mengunci gelar Premier League.
Meski mencatatkan era yang hampir tanpa celah, sebuah keputusan masa lalu rupanya masih mengusik pikiran sang manajer. Hal itu berkaitan dengan kebijakan transfer di awal kedatangannya pada tahun 2016 silam.
Saat pertama kali menukangi City, Guardiola langsung mengukir sejarah dengan membawa klub menjadi tim pertama yang meraih juara Liga Inggris lewat koleksi 100 poin. Di balik kesuksesan tersebut, ia mengambil langkah kontroversial dengan mendepak salah satu pemain ikonik kesayangan suporter.
Joe Hart, yang merupakan penjaga gawang legendaris Manchester City, tercatat hanya tampil dalam satu pertandingan kompetitif di bawah asuhan Guardiola, tepatnya pada babak kualifikasi Liga Champions. Posisinya kemudian digantikan oleh Claudio Bravo yang ditunjuk sebagai kiper utama.
Dalam sebuah sesi wawancara, Guardiola secara terbuka mengakui bahwa perlakuan terhadap Joe Hart merupakan penyesalan mendalam yang terus dipendam hingga saat ini.
"Saya tidak memberi Joe Hart kesempatan untuk bersama saya, untuk membuktikan dirinya dan menunjukkan betapa hebatnya dia sebagai kiper. Dan saya seharusnya melakukan itu," kata Guardiola.
"Saya sangat menghormati Claudio Bravo dan Ederson. Tetapi saat itu saya seharusnya berkata, ‘Oke Joe, mari kita coba bersama. Kalau tidak berhasil, baru kita ubah.’"
"Tetapi semuanya sudah terjadi. Dalam hidup, terkadang saya harus mengambil keputusan dan kadang saya tidak cukup adil," lanjutnya.
Setelah tersingkir dari posisi utama, Hart sempat menjalani masa peminjaman di Torino dan West Ham United sebelum akhirnya pindah secara permanen ke Burnley pada 2018. Padahal, Hart memiliki reputasi mentereng dengan raihan penghargaan Golden Glove Premier League selama tiga musim berturut-turut dari 2010 hingga 2013.
Pada tahun 2020, Hart sempat membagikan kisah emosional mengenai momen perpisahannya dan menegaskan bahwa keputusan melepasnya murni datang dari sang manajer, bukan keinginan para pendukung klub.
"Pep membuat semuanya sangat jelas bahwa saya harus meninggalkan Manchester City. Para fans di stadion juga menunjukkan bahwa keputusan itu bukan berasal dari mereka," ujar Hart.
Pengakuan terbuka dari Guardiola ini dinilai memberikan arti besar bagi para suporter yang menganggap Hart telah diperlakukan kurang adil kala itu. Pernyataan tersebut memperlihatkan sisi humanis Guardiola yang diprediksi bakal terus dikenang melampaui deretan trofi yang sudah diraihnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow