Pendapatan Sepak Bola Eropa Pecahkan Rekor Menembus 40 Miliar Euro
Total pendapatan sepak bola di Benua Biru mencetak rekor baru setelah untuk pertama kalinya menembus angka 40,2 miliar euro atau sekitar Rp826 triliun pada musim 2024/2025. Lonjakan nilai komersial tersebut melonjak dari musim sebelumnya yang tercatat sebesar 38 miliar euro, sebagaimana dilansir dari Bola berdasarkan laporan tahunan Deloitte Football Finance Review melalui Reuters pada Rabu (8/7/2026).
Dari keseluruhan jumlah tersebut, lima liga top Eropa yang meliputi Premier League, Bundesliga, LaLiga, Serie A, dan Ligue 1 menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 21,6 miliar euro. Kendati demikian, laporan finansial ini memberikan peringatan bahwa laju pertumbuhan industri tersebut mulai melambat dan berpotensi mengalami stagnasi hingga penurunan pada musim 2025/2026 serta 2026/2027.
Lead Partner Deloitte Sports Business Group, Tim Bridge memaparkan bahwa perluasan format kompetisi yang dilakukan oleh UEFA dan FIFA memang memberikan dampak positif terhadap pundi-pundi uang klub, namun hal itu dinilai bukan jalan keluar jangka panjang.
"Perluasan kompetisi UEFA dan FIFA telah memberikan manfaat finansial bagi lima liga terbesar Eropa. Namun, sepak bola tidak bisa terus mengandalkan penambahan pertandingan untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujar Tim Bridge, Lead Partner Deloitte Sports Business Group.
Kepadatan jadwal pertandingan tersebut dinilai olehnya berisiko menggerus kualitas kompetisi di lapangan sekaligus memberikan beban kerja yang berlebihan kepada para pemain.
"Pasar yang semakin jenuh tidak baik bagi pemain maupun penggemar, terutama jika kualitas pertandingan di lapangan ikut menurun. Pendekatan seperti ini berisiko mengutamakan keuntungan jangka pendek dibandingkan kemakmuran jangka panjang," tambah Tim Bridge, Lead Partner Deloitte Sports Business Group.
Berdasarkan rincian kompetisi, Premier League di Inggris tetap mengukuhkan posisi sebagai liga paling makmur dengan membukukan pemasukan 6,8 miliar poundsterling. Kenaikan delapan persen ini dipicu oleh kapasitas stadion yang meningkat, harga tiket yang naik, serta banyaknya wakil Inggris yang menembus fase akhir kompetisi Eropa, meski kerugian sebelum pajak mereka membengkak menjadi 948 juta poundsterling akibat tingginya biaya transfer.
Di sisi lain, Bundesliga di Jerman juga menorehkan sejarah baru setelah pendapatannya tumbuh 12 persen hingga melampaui angka 4 miliar euro untuk pertama kalinya. LaLiga menyusul dengan pendapatan 4,1 miliar euro di mana Real Madrid dan Barcelona menguasai 52 persen dari total pendapatan seluruh klub, sementara Serie A naik empat persen menjadi 3 miliar euro, dan Ligue 1 merosot 15 persen ke angka 2,2 milar euro karena penurunan sektor komersial.
Kondisi kontras terjadi pada divisi Championship Inggris yang pendapatannya turun dua persen menjadi 942 juta poundsterling dengan lonjakan kerugian sebelum pajak hingga 355 juta poundsterling. Sebaliknya, tren positif justru dicatatkan oleh Women's Super League (WSL) Inggris yang pendapatannya meroket 39 persen hingga mencapai 90 juta poundsterling, meskipun Deloitte menyoroti adanya pelebaran kesenjangan pemasukan antarklub dari 13 kali lipat menjadi 16 kali lipat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow