PSG Bidik Gelar Juara Liga Champions Tiga Musim Beruntun
Dua gelar Liga Champions secara beruntun rupanya belum membuat Paris Saint-Germain (PSG) merasa puas. Seperti dilansir dari Bola, klub raksasa Prancis tersebut kini membidik target yang lebih besar, yaitu menjuarai kompetisi tertinggi Eropa itu untuk tiga musim berturut-turut.
Ambisi besar ini tentu menjadi sinyal kewaspadaan bagi para pesaing mereka di Eropa. PSG tidak hanya menjelma sebagai tim terbaik di benua biru saat ini, tetapi juga sukses membangun fondasi skuad yang kuat untuk jangka panjang.
"Kami tentu akan bergerak di bursa transfer," ujar Nasser Al-Khelaifi, Presiden PSG, kepada TNT Sports di tengah perayaan gelar di lapangan Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30-5-2026).
Langkah manajemen PSG di bursa transfer dikenal tidak pernah setengah-setengah. Setelah era galactico yang mendatangkan bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Kylian Mbappe, hingga Lionel Messi, kini klub beralih ke strategi baru.
Klub bentukan Qatar Sports Investments ini sekarang berfokus mengumpulkan talenta muda berbakat. Saat mengalahkan Arsenal di partai final, rata-rata usia pemain utama PSG tercatat hanya 25,8 tahun, dengan mayoritas pemain merupakan pilar yang sama dari musim sebelumnya.
"Gelar ini membuat kami makin lapar. Ketika sudah menang, Anda selalu ingin menang lagi. Jangan pernah puas.
Jangan pernah berhenti. Luis Enrique mungkin yang paling bertanggung jawab atas mentalitas itu dan saya berharap dia terus mendorong kami agar bisa meraih lebih banyak trofi," kata Vitinha, gelandang PSG, yang terpilih sebagai pemain terbaik laga final.
Pelatih Luis Enrique dikenal sangat tegas dalam menjaga standar performa timnya. Pada musim lalu, ia tidak ragu menggeser Gianluigi Donnarumma dan memberikan posisi penjaga gawang utama kepada Matvey Safonov.
Untuk musim depan, gelandang muda berusia 20 tahun, Warren Zaire-Emery, diproyeksikan akan mendapatkan peran yang jauh lebih besar di tim utama. PSG juga mulai mengantisipasi regenerasi lini belakang untuk mencari suksesor jangka panjang kapten tim, Marquinhos, yang kini telah berusia 32 tahun.
Kekuatan lini tengah dan pertahanan PSG bahkan diakui langsung oleh manajer Arsenal setelah laga final bergulir.
"Apa yang bisa mereka lakukan dengan bola, kemampuan individu para pemainnya, saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya," ujar Mikel Arteta, manajer Arsenal.
Meskipun barisan penyerang seperti Ousmane Dembele, Khvicha Kvaratskhelia, dan Desire Doue sempat kesulitan menembus pertahanan rapat Arsenal, Les Parisiens tetap berhasil menemukan solusi kemenangan.
Setelah tertinggal lewat gol cepat Kai Havertz, tusukan Kvaratskhelia memaksa bek Cristhian Mosquera melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Ousmane Dembele yang maju sebagai eksekutor sukses menyamakan kedudukan dan memaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu.
Rencana Transfer yang Sangat Selektif
Meski manajemen memastikan akan aktif berburu pemain baru, Luis Enrique menegaskan bahwa PSG tidak memerlukan perombakan besar-besaran di dalam skuadnya.
"Kami akan tetap berada di jalur yang sama. Kami tidak membutuhkan banyak pemain karena sangat sulit menemukan pemain yang tepat untuk sistem permainan kami," ujar Luis Enrique.
"Kami sudah memiliki skuad yang luar biasa. Kami hanya membutuhkan beberapa pemain untuk menambah opsi di sejumlah posisi. Namun, jangan lupa, kami adalah juara Eropa dalam dua musim terakhir," imbuh Enrique.
Filosofi bermain Enrique yang mengedepankan tekanan tinggi, penguasaan bola dominan, dan situasi satu lawan satu sangat cocok dengan deretan pemain muda mereka. Beberapa di antaranya adalah Desire Doue yang berusia 20 tahun, Joao Neves yang berumur 21 tahun, serta Nuno Mendes yang menginjak usia 23 tahun.
"Kami sangat lapar. Kami tim yang muda dan kami tahu betapa besarnya ambisi yang kami miliki. Karena itu musim depan kami harus melakukannya lagi," kata Doue.
Tantangan Fisik dan Keunggulan Finansial
Satu-satunya tantangan nyata bagi skuad PSG saat ini adalah bagaimana menjaga kebugaran para pemain di tengah jadwal kompetisi yang sangat padat.
Musim lalu, kelelahan fisik membuat langkah mereka terhenti di Piala Dunia Antarklub setelah menjalani total 65 pertandingan. Di musim ini, laga final kontra Arsenal menjadi pertandingan ke-56 yang harus mereka lalui.
Faktor kelelahan ini sempat mempengaruhi performa Ousmane Dembele serta memicu cedera Fabian Ruiz. Situasi ini yang diyakini membuat Enrique membutuhkan beberapa pemain pelapis demi menjaga kedalaman skuad.
Berbeda dengan generasi emas Ajax atau Monaco di masa lalu yang langsung habis terjual, PSG memiliki kekutan finansial melimpah untuk memagari para pemain bintangnya dari kejaran klub raksasa Eropa lainnya.
"Wajar klub-klub besar menginginkan pemain PSG karena saat ini kami berada di puncak. Hari ini kami bisa mengatakan bahwa kami adalah tim terbaik di dunia, tim terbaik di Eropa, dan kami sangat menikmati bermain di kelompok yang luar biasa ini," ujar Vitinha.
Faktor kunci keberhasilan PSG mempertahankan dominasi ini dinilai berada di bawah kendali sang pelatih.
"Saya ingin berterima kasih kepada semua pelatih dan mantan pelatih yang pernah menangani Paris Saint-Germain. Tetapi, dia sangat spesial, baik sebagai pelatih maupun sebagai manusia," kata Al-Khelaifi.
"Dia luar biasa. Dia adalah pelatih terbaik di dunia," imbuh sang bos.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow