Mantan Wakil Bupati Bone Bolango Mohamad Kilat Wartabone Wafat
Masyarakat Gorontalo diselimuti duka mendalam atas wafatnya mantan Wakil Bupati Bone Bolango, Mohamad Kilat Wartabone, pada Minggu, 7 Juni 2026. Kabar duka ini menyebar cepat di berbagai kalangan pemerintahan hingga pelosok desa, dilansir dari Ulanda. Kepergian tokoh yang dikenal dekat dengan rakyat kecil ini menjadi kehilangan besar.
Sepanjang hidupnya, almarhum mengabdikan diri untuk urusan sosial dan pemerintahan di daerah tersebut. Mohamad Kilat Wartabone tercatat mengawal pembangunan Kabupaten Bone Bolango sejak awal pemekaran. Dirinya mengemban amanah sebagai Wakil Bupati selama tiga periode kepemimpinan yang berbeda.
Kiprah politik Kilat Wartabone di eksekutif dimulai saat mendampingi Bupati Ismet Mile untuk periode 2005–2010. Pada masa itu, mereka fokus meletakkan fondasi pembangunan kelembagaan dan pelayanan dasar bagi daerah yang baru mekar.
Setelah masa jabatan tersebut selesai, pengabdiannya berlanjut pada tahun 2013. Ia kembali dipercaya mengisi posisi Wakil Bupati untuk mendampingi Bupati Hamim Pou dalam menyelesaikan sisa masa jabatan hingga 2015. Kepercayaan dari masyarakat Bone Bolango kembali menguat pada pilkada berikutnya. Pasangan Hamim Pou dan Kilat Wartabone berhasil mendapatkan mandat penuh untuk memimpin daerah pada periode penuh 2016–2021.
Catatan tiga periode sebagai wakil kepala daerah menegaskan konsistensi politik almarhum. Dirinya dinilai mampu menjaga kepercayaan publik serta menjalin kerja sama yang baik dengan para bupati.
Warisan Semangat Perjuangan Nani Wartabone
Lahir pada 23 Januari 1961, tanggal kelahiran Kilat Wartabone bersamaan dengan Hari Patriotik Gorontalo. Momentum bersejarah tersebut memperingati perjuangan rakyat melawan penjajah di bawah pimpinan Nani Wartabone. Hubungan ini merupakan garis keturunan langsung, karena Kilat Wartabone adalah cucu dari Pahlawan Nasional sekaligus Proklamator Gorontalo tersebut.
Nilai-nilai perjuangan sang kakek turut membentuk karakter kepemimpinannya. Kedekatannya dengan kelompok ekonomi lemah seperti petani dan nelayan membuatnya mendapatkan julukan pejuang rakyat penuntas kemiskinan dari warga setempat. Gelar tersebut lahir secara alami dari rekam jejaknya di lapangan.
Semasa menjabat, almarhum selalu menekankan bahwa keberhasilan pembangunan daerah harus diukur dari peningkatan kesejahteraan warga secara nyata. Pandangan ini membuatnya lebih sering turun langsung ke lapangan ketimbang menghadiri acara seremonial.
“Beliau selalu berusaha mendengar langsung keluhan masyarakat. Itu yang membuat banyak orang merasa dekat dengannya,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Bone Bolango mengenang sosok almarhum. Kepergian Mohamad Kilat Wartabone menandai akhir dari pengabdian panjang seorang putra daerah. Namun, landasan pembangunan dan kedekatan dengan rakyat yang ia tunjukkan akan tetap melekat dalam sejarah Bone Bolango.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow