Beli Xiaomi Mi A2 di Tahun 2026 Ini Detail Kerugian yang Saya Rasakan
- Siksaan Membawa Powerbank Akibat Kapasitas Baterai Minim
- Peforma Qualcomm Snapdragon 660 yang Mulai Megap-megap
- Sistem Operasi yang Tertinggal dan Solusi Komunitas
- Kamera Ganda yang Masih Bisa Bersaing di Kondisi Terang
- Perbandingan Spesifikasi Varian Xiaomi Seri A
- Menimbang Ulang Kelayakan Investasi Ponsel Lawas
Saya sengaja menyalakan kembali Xiaomi Mi A2 minggu ini untuk melihat sejauh mana ponsel Android One ini bertahan. Ketika pertama kali diluncurkan secara global pada Juli 2018, perangkat ini memang memikat banyak orang termasuk saya. Namun menggunakan ponsel ini di tahun 2026 memberikan realitas yang sangat berbeda dan penuh kompromi.
Ekspektasi saya untuk mendapatkan pengalaman Android murni yang ringan langsung berbenturan dengan kenyataan pahit baterai yang bocor. Di era aplikasi modern yang haus daya, spesifikasi lawas perangkat ini mulai menunjukkan umur aslinya. Mari kita bedah bagaimana rasanya memegang ponsel ini sekarang.
Saat pertama kali menggenggamnya kembali, dimensi bodi logam tipis Xiaomi Mi A2 terasa sangat asing namun elegan. Ketebalannya yang minimalis memberikan kesan premium yang jarang ditemukan pada ponsel kelas menengah zaman sekarang. Sayangnya estetika bodi metal unibody ini mengorbankan kenyamanan penggunaan sehari-hari karena terasa sangat licin.
Saya berulang kali hampir menjatuhkan ponsel ini saat mencoba mengambilnya dari saku celana. Layar berukuran 5,99 inci Full HD+ IPS LCD miliknya sebenarnya masih cukup tajam untuk sekadar membaca teks dokumen. Kerapatan piksel yang mencapai 403 ppi membuat reproduksi warna terasa natural walau kecerahannya di bawah terik matahari terasa sangat kurang.
Untungnya panel depan ponsel ini sudah dilapisi oleh pelindung kaca Corning Gorilla Glass 5 yang cukup tangguh. Selama pengujian ekstrem tanpa casing, layar tersebut terbukti tahan terhadap goresan kunci di dalam kantong saya. Namun bezel tebal di bagian atas dan bawah langsung mengingatkan saya bahwa ini adalah produk dari masa lalu.
Bodi tipis Xiaomi Mi A2 memang terasa premium, namun absennya colokan audio 3.5 mm di perangkat ini adalah keputusan paling menjengkelkan yang harus saya terima sejak awal peluncurannya.
Apakah ketipisan bodi ini sebanding dengan hilangnya lubang audio portabel yang sangat krusial bagi pencinta earphone kabel? Bagi saya jelas tidak, karena saya harus selalu membawa adapter tambahan kemana-mana. Kejengkelan ini semakin bertambah ketika kita mulai membahas sektor suplai daya yang tertanam di dalamnya.
Siksaan Membawa Powerbank Akibat Kapasitas Baterai Minim
Poin paling krusial yang membuat saya frustrasi selama seminggu menggunakan Xiaomi Mi A2 adalah daya tahan baterainya. Kapasitas baterai yang hanya sebesar 3010 mAh terasa sangat mengenaskan untuk standar aplikasi media sosial zaman sekarang. Saya hanya mendapatkan waktu layar menyala atau screen-on time sekitar dua setengah jam saja.
Ketika saya bawa beraktivitas di luar ruangan, baterai ponsel ini langsung terkuras habis sebelum jam makan siang tiba. Penggunaan konektor bolak-balik tipe-C 1.0 versi 2.0 memang membantu mempermudah proses pengisian daya di mobil. Namun tetap saja ketergantungan terhadap powerbank menjadi hal wajib yang sangat merepotkan.
Untuk pasar global ponsel ini mendukung pengisian daya cepat Quick Charge 3.0 yang membutuhkan waktu satu setengah jam hingga penuh. Berbeda dengan varian khusus pasar India yang beruntung karena sudah mendukung teknologi Quick Charge 4.0. Tetap saja kecepatan pengisian tersebut tidak mampu menutupi fakta bahwa baterainya sangat boros.
Menariknya jika melihat catatan sejarahnya, varian ringan seperti Xiaomi Mi A2 Lite justru hadir dengan solusi daya yang jauh lebih masuk akal. Versi murah tersebut membawa baterai berkapasitas 4000 mAh yang jauh lebih badak untuk penggunaan harian. Selain itu versi Lite masih mempertahankan slot kartu memori eksternal serta colokan audio 3.5 mm yang dipangkas di versi reguler ini.
Peforma Qualcomm Snapdragon 660 yang Mulai Megap-megap
Dapur pacu ponsel ini ditenagai oleh sistem chip Qualcomm Snapdragon 660 dengan unit pemroses grafis Adreno 512. Di atas kertas inti prosesor Kryo 260 kustom yang menggantikan inti Cortex A53 jadul memang sempat berjaya di kelasnya. Namun saat saya pasang aplikasi modern, prosesor ini mulai mengeluarkan hawa panas yang tidak nyaman di bodi belakangnya.
Navigasi menu utama sebenarnya terasa relatif lancar berkat optimasi sistem operasi yang bersih tanpa animasi berat. Masalah besar baru muncul ketika saya mencoba membuka tiga aplikasi secara bersamaan secara multitasking. Ponsel sering kali mengalami lag parah dan berujung pada penutupan aplikasi secara paksa akibat manajemen RAM yang kewalahan.
Bagaimana dengan performa gaming di perangkat berumur delapan tahun ini? Berdasarkan pengujian langsung, game kompetitif populer hanya bisa berjalan di pengaturan grafis terendah dengan frame rate yang tidak stabil. Suhu bodi logamnya cepat sekali meningkat drastis yang otomatis memicu penurunan performa secara sistemik atau thermal throttling.
Sistem Operasi yang Tertinggal dan Solusi Komunitas
Saat pertama kali keluar dari kotak pembelian ponsel ini menggunakan sistem operasi Android versi 8.1 Oreo. Sesuai janji program Android One perangkat mendapat jaminan pembaruan selama dua tahun untuk mendukung versi Android P dan Android Q. Secara resmi perjalanan perangkat lunak Xiaomi Mi A2 memang telah berakhir dan mentok hingga versi Android 10 saja.
Berada di versi Android lawas membuat banyak aplikasi perbankan modern menolak untuk berjalan di ponsel ini demi alasan keamanan. Ini adalah pembatasan sistemik yang membuat ponsel ini tidak lagi cocok dijadikan sebagai perangkat utama harian Anda. Anda akan sering menemukan notifikasi ketidakpatuhan OS di layanan Google Play Store.
Bagi pengguna kasual kondisi ini tentu menjadi jalan buntu yang memaksa mereka untuk membeli ponsel baru. Namun bagi para pencinta oprek, ponsel ini masih memiliki umur kedua berkat dukungan komunitas yang sangat masif. Sistem operasi bawaan pada perangkat ini dapat diganti secara tidak resmi menggunakan sistem operasi alternatif yang terus diperbarui.
Beberapa proyek kustom ROM terkenal menyediakan paket instalasi yang membuat ponsel lawas ini bisa mencicipi fitur sistem operasi terbaru. Jika Anda tertarik bereksperimen, performa perangkat bahkan bisa terasa lebih segar dibanding perangkat lunak aslinya. Kebebasan oprek inilah yang menjadi satu-satunya nilai tambah yang tersisa dari ponsel Android murni ini.
Kamera Ganda yang Masih Bisa Bersaing di Kondisi Terang
Sektor yang mengejutkan saya secara positif dari Xiaomi Mi A2 adalah performa kamera belakangnya saat kondisi siang hari. Sistem kamera ganda ponsel ini terdiri dari kamera utama 12 MP dengan ukuran piksel 1,25 mikrometer dan bukaan lensa f/1.75. Ditemani kamera sekunder 20 MP dengan ukuran piksel 2,0 mikrometer yang memiliki bukaan f/1.75.
Hasil foto di luar ruangan menunjukkan detail yang tajam dengan kontras warna yang tidak berlebihan khas pemrosesan Google. Kecepatan fokusnya juga tergolong instan untuk ukuran teknologi sensor gambar yang sudah berumur. Foto portrait atau efek bokeh yang dihasilkan pun memiliki pemisahan latar belakang yang cukup rapi.
Namun jangan berharap banyak ketika Anda membawa kamera ini untuk memotret pemandangan malam hari atau low light. Ketiadaan fitur penstabil gambar optik atau OIS membuat hasil foto malam sering kali buram dan dipenuhi oleh noise digital. Detail gambar langsung hancur menjadi usang layaknya kamera ponsel murah zaman sekarang.
Untuk kebutuhan swafoto kamera depan beresolusi 20 MP dengan ukuran piksel 2,0 mikrometer dan bukaan f/2.2 tergolong standar. Hasil tangkapan wajah saya terlihat sedikit pucat jika fitur kecantikan bawaan sistem tidak diaktifkan. Setidaknya kamera depan ini masih sangat layak digunakan untuk sekadar melakukan panggilan video konferensi.
Perbandingan Spesifikasi Varian Xiaomi Seri A
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi perangkat ini, mari kita lihat perbandingan komponen utamanya secara terstruktur. Data berikut menunjukkan bagaimana varian reguler memangkas beberapa fitur fisik demi mengejar performa prosesor yang lebih tinggi pada masanya.
| Fitur Perangkat | Varian Mi A2 Reguler | Varian Mi A2 Lite |
|---|---|---|
| Prosesor | Snapdragon 660 | Snapdragon 625 |
| Kapasitas Baterai | 3010 mAh | 4000 mAh |
| Lubang Audio 3.5mm | Tidak Ada | Tersedia |
| Slot Memori Eksternal | Tidak Ada | Tersedia |
| Ukuran Layar | 5,99 inci | 5,84 inci |
Melihat data di atas, keputusan Xiaomi membuang fitur esensial pada versi reguler terasa sangat disayangkan jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Pengguna versi Lite justru mendapatkan kenyamanan penggunaan yang lebih awet berkat efisiensi daya dan kelengkapan port fisik.
Menimbang Ulang Kelayakan Investasi Ponsel Lawas
Membeli Xiaomi Mi A2 di pasar barang bekas saat ini hanya cocok jika Anda mencari ponsel cadangan murah untuk keperluan oprek sistem operasi kustom. Berdasarkan pantauan saya di platform e-commerce lokal, harga perangkat ini sudah merosot tajam ke angka ratusan ribu rupiah saja. Untuk sebuah gawai dengan pelindung Gorilla Glass 5, harga tersebut memang terlihat sangat menggiurkan.
Namun Anda harus siap menghadapi konsekuensi baterai yang boros dan keterbatasan ekosistem aplikasi akibat sistem operasi yang mandek di Android 10. Menggunakan ponsel ini sebagai perangkat harian tanpa pengetahuan teknis modifikasi perangkat lunak akan menjadi pengalaman yang menyiksa batin. Kompromi yang harus Anda bayar terlalu besar demi menghemat anggaran belanja gadget.
Jika Anda memiliki dana terbatas, melirik ponsel kelas entri keluaran terbaru jauh lebih bijak daripada memaksakan diri memelihara ponsel lawas ini. Teknologi manajemen daya dan efisiensi arsitektur prosesor modern modern telah berkembang jauh melampaui apa yang bisa ditawarkan oleh Snapdragon 660. Menyimpan perangkat ini sebagai koleksi sejarah teknologi adalah tempat terbaik bagi Xiaomi Mi A2 saat ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow