Beli HP Malah Bingung Kenapa Xiaomi dan Redmi Ternyata Beda Kasta

Smallest Font
Largest Font

Banyak konsumen langsung mengangguk setuju ketika ditanya apakah Xiaomi dan Redmi sama, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya sering sekali menemui teman yang mengeluh ponsel Redmi miliknya tidak segegas seri Xiaomi utama, padahal mereka menganggap keduanya adalah barang yang persis sama.

Ekspektasi keliru ini sering kali berujung pada kekecewaan konsumen di pasar Indonesia. Memang betul bahwa kedua merek ini lahir dari rahim perusahaan yang sama, namun mereka kini berjalan di jalur yang sangat berbeda lho.

Jika Anda berencana membeli perangkat baru, memahami batasan kasta antara kedua lini ini sangatlah krusial. Mari kita bedah secara kritis mengapa Anda tidak bisa lagi menyamakan kedua nama ini dalam satu keranjang yang sama.

---

Akar Sejarah yang Membuat Konsumen Keliru

Perusahaan Xiaomi pertama kali berdiri dan beroperasi di Beijing, Tiongkok pada tahun 2010. Pada awal kemunculannya, perusahaan ini fokus membangun reputasi lewat perangkat kelas atas dengan harga yang sangat merusak pasar. Namun, strategi mereka berubah ketika melihat potensi besar di pasar kelas bawah yang membutuhkan perangkat murah.

Tepat pada Juli 2013, seri Xiaomi Redmi pertama kali diumumkan sebagai sub-merek yang menyasar segmen entry-level. Langkah ini terbukti menjadi mesin uang baru bagi raksasa teknologi asal Tiongkok tersebut. Penjualan perdana unit ponsel Redmi untuk konsumen dimulai pada 12 Juli 2013, dengan jumlah terbatas di China dan 10.000 unit di Hong Kong.

Respons pasar global ternyata sangat luar biasa terhadap lini murah ini. Sebagai contoh nyata, pada 13 Maret 2014, ponsel Redmi bahkan tercatat terjual habis di Singapura dalam waktu hanya 8 menit setelah tersedia di situs web resmi Xiaomi.

Redmi awalnya diciptakan hanya sebagai eksperimen lini murah untuk membendung kompetitor di kelas bawah, namun popularitasnya justru meledak melampaui prediksi awal perusahaan.

Keberhasilan lini murah ini langsung mendongkrak posisi perusahaan di tingkat global secara drastis. Berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal, pada Kuartal Kedua Tahun Fiskal 2014, pangsa pasar pengiriman smartphone di China mencatat sejarah baru.

Xiaomi berhasil menyalip Samsung di peringkat pertama dengan raihan pangsa pasar sebesar 14%. Sementara itu, Samsung terlempar ke angka 12%, bersanding ketat dengan Yulong dan Lenovo yang masing-masing juga memiliki pangsa pasar 12%.

Ekspansi agresif ini berlanjut hingga Xiaomi pertama kali hadir di pasar Indonesia pada tahun 2014. Puncaknya terjadi pada tahun 2018, di mana Xiaomi berhasil menjadi produsen ponsel pintar terbesar ke-4 di dunia dalam hal pengembangan, desain, dan penjualan.

Apakah Xiaomi dan Redmi itu Sama ? | Bahas Tech

Keputusan Pisah Ranjang Menjadi Anak Perusahaan

Melihat pertumbuhan Redmi yang semakin raksasa, manajemen mengambil langkah korporasi yang sangat berani. Pada 10 Januari 2019, Redmi secara resmi memisahkan diri menjadi anak perusahaan atau sub-merek tersendiri yang mandiri. Pemisahan ini dilakukan agar Redmi bisa lebih leluasa bertarung di segmen pasar harga terjangkau tanpa membebani citra Xiaomi. Langkah ini sekaligus mempertegas garis batas identitas antara produk premium dan produk esensial.

Perubahan identitas kembali terjadi beberapa tahun kemudian untuk memperkuat posisi kelas atas mereka. Pada tahun 2021, nama "Xiaomi" secara resmi digunakan untuk menggantikan sub-merek "Xiaomi Mi" sebagai lini produk utama perusahaan. Jadi, kalau dulu Anda mengenal perangkat flagship dengan nama Xiaomi Mi 10, maka penerusnya kini langsung menggunakan nama Xiaomi 14. Strategi ini mempertegas bahwa kata "Xiaomi" kini hanya diadopsi oleh perangkat kasta tertinggi mereka.

---

Perbandingan Spesifikasi Masa Lalu yang Membentuk Kasta

Perbedaan kasta ini sebenarnya sudah bisa kita lihat secara gamblang dari rekam jejak spesifikasi masa lalu mereka. Dilansir dari Kompas, jurang pemisah antara seri Xiaomi Mi dan Redmi lawas sangat terlihat dari komponen internal yang digunakan.

Sangat tidak adil jika Anda mengharapkan performa pengerjaan tugas berat yang setara dari kedua lini ini. Mari kita lihat bagaimana kedua lini ini dibekali senjata yang sangat jauh berbeda kelasnya pada masa-masa awal perkembangan mereka.

Perbandingan Spesifikasi Komponen Seri Xiaomi Mi vs Redmi Masa Lalu
Komponen UtamaSeri Xiaomi Mi Masa LaluSeri Redmi Masa Lalu
Kapasitas RAM Minimal3 GB hingga 4 GB1 GB hingga 2 GB
Resolusi Kamera UtamaMinimal 13 MPKisaran 8 MP
Keluarga ChipsetSnapdragon kelas 800Mediatek kelas menengah

Dari tabel di atas, menurut saya terlihat jelas bahwa Redmi memang dirancang untuk menekan biaya produksi serendah mungkin. RAM yang pas-pasan dan chipset Mediatek kelas menengah pada masa itu membuat Redmi hanya nyaman untuk kebutuhan harian yang santai.

Sebaliknya, seri Xiaomi Mi masa lalu selalu dimanjakan dengan performa premium berkat Snapdragon kelas 800. Komponen kelas atas tersebut membuat varian utama selalu mumpuni untuk kebutuhan komputasi berat dan aktivitas bermain game intensif.

---

Kekurangan Lini Redmi yang Wajib Anda Sadari

Meskipun Redmi menawarkan harga yang sangat menggiurkan dompet, perangkat ini tentu memiliki sejumlah kekurangan yang krusial. Sektor material bodi adalah hal pertama yang paling sering dikorbankan oleh pihak pabrikan.

Jangan harap Anda akan mendapatkan sensasi premium berupa material kaca melengkung atau bingkai aluminium kokoh pada perangkat Redmi. Mayoritas gawai pelindung kantong ini masih mengandalkan material polikarbonat alias plastik tebal.

  • Bahan bodi belakang plastik yang sangat rentan terhadap goresan halus dan bekas sidik jari.
  • Dukungan pembaruan perangkat lunak sistem operasi yang umumnya lebih pendek dibanding seri premium.
  • Optimalisasi sensor kamera yang cenderung standar sehingga performa foto low-light kurang memuaskan.

Selain itu, fitur pengisian daya cepat pada lini entry-level biasanya tidak sefantastis kakak kandungnya. Beberapa tipe HP Xiaomi terbaru memang sudah mendukung teknologi Turbo Charging dengan kecepatan pengisian daya cepat hingga 67W. Namun, fitur Turbo Charging 67W tersebut biasanya lebih banyak diadopsi oleh lini Xiaomi utama atau varian Redmi Note tertinggi.

Untuk perangkat Redmi kelas bawah, Anda harus puas dengan kecepatan pengisian daya yang jauh lebih rendah dan memakan waktu lama. Jangan pernah terjebak membeli perangkat hanya karena melihat logo yang mirip di kotak penjualannya. Jika prioritas Anda adalah performa mutakhir tanpa kompromi, kamera superior, dan material premium, maka tabunglah uang Anda untuk meminang lini Xiaomi.

Namun, jika Anda membutuhkan perangkat harian yang andal untuk sekadar media sosial atau aplikasi ojek online dengan dana terbatas, membelanjakan uang untuk sub-merek Redmi adalah keputusan yang sangat rasional. Pilihan terbaik selalu kembali pada seberapa realistis Anda melihat anggaran dan kebutuhan performa harian Anda.

Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed