Harga Emas Dunia Ambles ke Level Terendah Jelang Akhir Juni 2026
Harga emas dunia hari ini 25 Juni 2026 bergerak di zona merah setelah mengalami tren penurunan tajam semenjak penutupan perdagangan pasar spot tengah pekan ini. Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) secara konsisten yang membuat komoditas ini menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya.
Kondisi ini menjadi perhatian besar bagi pelaku pasar global karena menjadi titik terendah baru dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan harga ini merefleksikan sentimen negatif yang membayangi aset aman (safe haven) setelah pertemuan bank sentral AS atau The Fed.
Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari CNBC Indonesia, harga emas spot ditutup merosot sebesar 1,96 persen ke posisi US$ 4.108,35 per troy ons pada perdagangan Selasa. Padahal, pada hari Senin sebelumnya, komoditas ini sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,63 persen.
Tekanan jual berlanjut hingga Rabu pagi pukul 06.43 WIB, di mana harga emas berada di level US$ 4.083,89 per troy ons. Angka tersebut menunjukkan penurunan tambahan sebesar 0,6 persen sekaligus menjadi harga terendah sejak 10 Juni 2026.
Laporan dari Bareksa mencatatkan bahwa harga emas spot bahkan sempat turun hingga 1,4 persen ke level US$ 4.049,44 per ons pada Rabu siang pukul 11.10 GMT. Kejatuhan ini diikuti oleh kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus yang merosot hampir 2 persen ke level US$ 4.066,70 per ons.
Secara keseluruhan, sejak pertemuan The Fed pada pekan ketiga Juni 2026, harga emas dunia tercatat telah terpangkas lebih dari 4 persen. Pergerakan ini menjauhkan emas dari rekor tertingginya di akhir Mei 2026 yang sempat menyentuh US$ 4.595 per troy ons, atau setara dengan akumulasi penurunan sekitar 9,8 persen.
Faktor Utama Penyebab Harga Emas Anjlok
Penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan harga logam mulia belakangan ini. Investor cenderung beralih ke mata uang paman sam tersebut di tengah ketidakpastian proyeksi kebijakan moneter global.
Lonjakan Indeks Dolar AS
Indeks dolar AS (DXY) dilaporkan menutup perdagangan dengan perkasa di level 101,408. Posisi ini merupakan rekor tertinggi dalam 13 bulan terakhir sejak Mei 2025, yang secara otomatis melemahkan daya tarik komoditas logam mulia.
Dampak Pengaruh Suku Bunga terhadap Emas
Kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh bank sentral membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang emas menjadi lebih besar. Karena emas tidak menghasilkan imbal hasil atau dividen, investor lebih memilih menempatkan dana pada aset berbasis dolar AS.
Informasi ini bukan saran investasi. Konsultasikan dengan penasihat keuangan.
Perbandingan Harga Komoditas Logam Mulia
Penurunan tajam tidak hanya melanda komoditas emas, melainkan juga menular pada pergerakan harga perak global di pasar spot. Perak mencatatkan koreksi yang bahkan lebih dalam dibandingkan emas dalam periode perdagangan yang sama.
Berikut adalah perbandingan data pergerakan harga emas dan perak dunia berdasarkan laporan pasar terkini:
| Komoditas | Posisi Selasa (23/6/2026) | Posisi Rabu (24/6/2026) | Persentase Perubahan |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | US$ 4.108,35 /oz | US$ 4.083,89 /oz | -1,96% (Selasa) / -0,6% (Rabu) |
| Perak Spot | US$ 61,55 /oz | US$ 61,35 /oz | -5,6% (Selasa) / -0,3% (Rabu) |
Berdasarkan catatan historis dari Kontan, harga emas di pasar global sebenarnya sangat jarang menyentuh level psikologis US$ 4.000. Sebelum periode Juni 2026 ini, level harga tersebut terakhir kali disentuh oleh pasar pada November 2025 yang lalu.
Penurunan harga perak spot sebesar 5,6 persen menjadi US$ 61,55 per troy ons juga menandai posisi penutupan terendah untuk komoditas perak sejak November 2025. Pergerakan pasar saat ini masih terus dipantau oleh para pelaku sektor keuangan guna melihat potensi konsolidasi harga berikutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow