Beda Xiaomi dan Redmi Ternyata Jauh, Jangan Salah Beli HP Harga Rp1 Jutaan Hingga Rp20 Jutaan

Smallest Font
Largest Font

Banyak pengguna yang masih bingung membedakan antara ponsel pintar berlabel Xiaomi dan Redmi di pasaran saat ini. Saya sering kali menemui orang yang menganggap kedua merek ini sepenuhnya sama hanya karena berada di bawah payung korporasi yang serupa. Padahal, jika Anda melihat lebih dalam ke kebijakan produk dan target pasar, beda Xiaomi dan Redmi sangatlah signifikan.

Kesalahan memahami identitas kedua merek ini bisa membuat Anda keliru dalam memilih perangkat yang sesuai dengan kebutuhan. Sebagai pengamat yang mengikuti perkembangan teknologi, saya melihat bahwa pemisahan identitas ini sangat krusial bagi strategi bisnis mereka di industri global. Mari kita bedah secara mendalam bagaimana kedua lini produk ini sebenarnya berjalan di jalurnya masing-masing.

Apakah Xiaomi dan Redmi itu Sama ? | Bahas Tech

Menilik Akar Sejarah dan Perjalanan Korporasi

Xiaomi adalah perusahaan asal Tiongkok yang mulai beroperasi sejak tahun 2010 silam. Sejak awal kemunculannya, perusahaan ini fokus pada pengembangan, desain, dan juga penjualan perangkat lunak serta perangkat keras. Langkah agresif mereka membuahkan hasil yang sangat besar dalam waktu relatif singkat di pasar global.

Pada tahun 2018, Xiaomi berhasil menjadi produsen ponsel pintar terbesar ke-4 di dunia dalam hal pengembangan, desain, dan penjualan. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pemasaran yang unik dan ekosistem produk yang sangat luas. Namun, peningkatan skala bisnis yang masif ini menuntut mereka untuk melakukan segmentasi produk yang lebih spesifik demi menjangkau semua lapisan konsumen.

Awal Mula Kehadiran Lini Redmi

Merek REDMI diperkenalkan pertama kali pada Juli 2013 dengan nama Xiaomi Redmi atau HongMi. Penjualan perdana konsumen untuk lini ini dimulai pada tanggal 12 Juli 2013. Kehadiran lini ini awalnya bertujuan untuk menguasai pasar kelas bawah yang membutuhkan perangkat fungsional namun tetap ramah di kantong.

Strategi peluncuran awal ini terbukti sangat sukses di beberapa wilayah operasional mereka. Saat peluncuran awal Redmi tahun 2013, Xiaomi menyediakan unit terbatas untuk China dan 10.000 unit untuk Hong Kong. Langkah ini menciptakan permintaan yang sangat tinggi di kalangan konsumen.

Popularitas merek ini terus meroket secara global dalam waktu singkat. Pada 13 Maret 2014, ponsel Redmi habis terjual di Singapura hanya dalam waktu 8 menit setelah tersedia di situs web resmi. Kecepatan penjualan ini membuktikan bahwa minat masyarakat terhadap perangkat kelas terjangkau sangat besar.

Kemandirian Merek dan Perubahan Nama Seri

Berdasarkan laporan The Wall Street Journal tanggal 4 Agustus 2014, pada kuartal kedua tahun fiskal 2014, Xiaomi menyalip Samsung di pasar smartphone China dengan raihan pangsa pasar sebesar 14%. Sementara Samsung meraih 12%, Yulong 12%, dan Lenovo 12% pada periode tersebut. Catatan sejarah ini menjadi titik balik penting bagi ekspansi mereka.

Melihat potensi pertumbuhan yang luar biasa, korporasi mengambil keputusan strategis yang besar beberapa tahun kemudian. Pada 10 Januari 2019, REDMI resmi memisahkan diri menjadi anak perusahaan atau sub-merek mandiri dari Xiaomi. Pemisahan ini memberikan keleluasaan bagi Redmi untuk menentukan arah produknya sendiri.

Di sisi lain, lini utama juga mengalami penyegaran identitas agar tidak membingungkan konsumen. Nama "Xiaomi" resmi digunakan sebagai penerus nama sub-merek "Xiaomi Mi" sejak tahun 2021 silam. Langkah ini mempertegas posisi merek utama sebagai representasi produk kelas premium mereka.

Perbedaan paling mencolok yang dapat dirasakan langsung oleh konsumen adalah dari segi harga dan segmentasi pasar. Lini utama Xiaomi difokuskan untuk mengisi pasar kelas atas atau flagship. Perangkat ini dirancang bagi konsumen yang menginginkan teknologi terdepan tanpa kompromi.

Sebaliknya, Redmi tetap setia pada akar sejarahnya sebagai penguasa pasar kelas entry-level hingga menengah. Strategi ini membuat kedua merek tidak saling memakan pasar satu sama lain, melainkan saling melengkapi. Konsumen dapat memilih perangkat sesuai dengan kemampuan anggaran masing-masing.

Dari spesifikasinya, menurut saya pemisahan harga ini sangat logis karena biaya riset untuk teknologi flagship di seri utama jauh lebih tinggi daripada memproduksi massal komponen kelas menengah untuk sub-merek mereka.

Secara global, seluruh varian Xiaomi Redmi dibanderol di bawah US$300, yang di Indonesia biasanya dipasarkan tidak lebih dari Rp2,5 juta untuk varian standarnya. Sebaliknya, seluruh varian Mi atau Xiaomi utama dijual di atas US$300, yang di Indonesia dipastikan dipasarkan di atas Rp3,5 juta untuk varian paling dasarnya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai situasi pasar saat ini, mari kita lihat rentang harga yang berlaku untuk kedua merek tersebut. Perbedaan angka ini mencerminkan perbedaan kualitas material dan fitur internal yang tertanam di dalamnya.


Advertisement
Scroll To Continue with Content
Follow indonesiakita.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed