Hp Rp1 Jutaan POCO C75 Apakah Masih Layak Dibeli pada Pertengahan Tahun 2026
Pertanyaan mengenai kelayakan hp Rp1 jutaan POCO C75 untuk dibeli pada pertengahan tahun 2026 akhirnya terjawab setelah saya mengujinya secara intensif sebagai perangkat harian.
Ketika pertama kali diluncurkan sekitar setahun lalu, smartphone ini langsung menarik perhatian berkat penawaran layar super mulus dan baterai badak dengan harga yang sangat ramah kantong.
Saya sengaja memosisikan perangkat ini sebagai ponsel utama selama dua minggu penuh untuk melihat sejauh mana performanya mampu bertahan menghadapi ekosistem aplikasi masa kini yang kian berat.
Saat saya mencoba menyalakan layar berukuran 6,88 inci miliknya, impresi pertama yang muncul adalah ukurannya yang terasa masif di genggaman tangan.
Satu hal yang paling saya apresiasi dari panel IPS LCD ini adalah dukungan refresh rate adaptif yang mampu beralih mulus antara 60Hz hingga 120Hz secara otomatis.
Pergerakan animasi saat menggulir beranda media sosial terasa sangat instan berkat touch sampling rate 240Hz yang membuat layar terasa begitu sensitif terhadap sentuhan jari.
Namun, ekspektasi saya harus sedikit diredam ketika menyadari bahwa bentang layar sebesar ini hanya dibekali dengan resolusi HD+ atau 720 x 1640 piksel saja.
Kerapatan layar yang hanya menyentuh angka 260 ppi membuat teks-teks berukuran kecil terlihat agak kurang tajam jika Anda melihatnya dari jarak dekat.
Meskipun demikian, rasio layar-ke-bodi yang mencapai 85,5% setidaknya mampu memberikan pengalaman visual yang terasa imersif untuk menikmati konten multimedia sehari-hari.
Tingkat kecerahan tipikal sebesar 450 nits sebenarnya sudah cukup mumpuni untuk penggunaan di dalam ruangan atau area yang teduh.
Ketika dipakai di bawah terik matahari langsung, fitur High Brightness Mode (HBM) akan mendongkrak kecerahan maksimalnya hingga menyentuh angka 600 nits.
Walaupun angka 600 nits tersebut membantu keterbacaan layar, saya tetap harus sedikit memicingkan mata saat membaca pesan teks di luar ruangan.
Kedalaman warna 8-bit yang diusungnya mampu menyajikan reproduksi warna yang cukup natural, meskipun tingkat kontrasnya tidak akan sepekat panel berteknologi AMOLED.
Bagaimanakah performa sesungguhnya dari jeroan ponsel ini ketika dipaksa bekerja keras menjalankan aplikasi modern? Kita akan mengulasnya lebih dalam pada bagian berikutnya.
Dilema Performa Cip Entri Antara Varian 5G dan Non-5G
Aspek dapur pacu dari POCO C75 ini menuntut kecermatan ekstra sebelum Anda memutuskan untuk membelinya karena adanya perbedaan varian prosesor di pasaran.
Berdasarkan data teknis dari NanoReview, varian non-5G ditenagai oleh prosesor fabrikasi 12 nm buatan perusahaan semikonduktor asal Taiwan, MediaTek.
Cip ini mengusung arsitektur delapan inti yang terdiri atas 2 inti performa berkecepatan 2 GHz dan 6 inti efisiensi berkecepatan 1,7 GHz.
Menariknya, cip varian non-5G ini sudah dilengkapi dengan unit pemroses saraf atau NPU bawaan untuk membantu pemrosesan kecerdasan buatan tingkat dasar.
Sementara itu, varian 5G menawarkan efisiensi daya yang jauh lebih superior berkat penggunaan sistem cip dengan proses fabrikasi 4 nm yang modern.
Arsitektur delapan inti pada varian 5G ini membagi tugasnya ke dalam 2 inti performa tinggi 2.0 GHz dan 6 inti efisiensi 1.8 GHz.
Sektor grafis pada varian jaringan generasi kelima tersebut didukung penuh oleh unit pengolah grafis terintegrasi yang lebih gesit dalam mengolah visual game.
Mari kita tengok detail dimensi fisik serta perbedaan spesifikasi mendasar di antara kedua varian perangkat entry-level andalan POCO ini.
| Parameter Spesifikasi | POCO C75 Varian 5G | POCO C75 Varian Non-5G |
|---|---|---|
| Tinggi Perangkat | 171,9 mm | 171,88 mm |
| Lebar Perangkat | 77,8 mm | 77,8 mm |
| Ketebalan Bodi | 8,2 mm | 8,22 mm |
| Bobot Total | 213 gram | 204 gram |
| Ukuran Layar | 6,88 inci | 6,88 inci |
| Resolusi Panel | 720 x 1640 piksel | 720 x 1640 piksel |
| Refresh Rate | 120Hz | 120Hz |
Melihat tabel di atas, varian 5G terasa sedikit lebih berat di tangan dengan bobot 213 gram dibandingkan varian non-5G yang berada di angka 204 gram.
Kombinasi RAM fisik berteknologi LPDDR4X dengan opsi kapasitas 4GB, 6GB, hingga 8GB memberikan keleluasaan dalam memilih sesuai dengan bujet Anda.
Unit yang saya uji kebetulan merupakan varian RAM 8GB, yang untungnya didukung fitur perluasan memori kerja virtual hingga menyamai kapasitas memori fisik bawaannya.
Fitur virtual RAM ini bekerja dengan cara meminjam ruang kosong dari penyimpanan internal tipe eMMC 5.1 yang berkapasitas 64GB atau 128GB.
Penggunaan memori tipe eMMC 5.1 di tahun 2026 terasa seperti sebuah kompromi besar yang membuat proses instalasi aplikasi terasa agak lambat.
Untungnya, bagi Anda yang gemar mengoleksi file berukuran besar, ponsel ini masih menyediakan slot kartu memori eksternal terdedikasi alias microSD.
Slot microSD tersebut sanggup menampung kartu memori eksternal dengan kapasitas maksimal hingga 1024 GB atau setara dengan 1 TB.
Bagaimanakah kemampuan sektor fotografi ponsel ini dalam mengabadikan momen harian Anda? Mari kita bedah performa kameranya secara langsung.
Kamera Utama 50 MP yang Mengandalkan Pencahayaan Melimpah
Sektor fotografi dari POCO C75 ini dipimpin oleh kamera utama berkekuatan 50 MP yang memiliki bukaan lensa f/1.8 yang cukup besar.
Secara teori, sensor ini mampu menghasilkan gambar dengan resolusi maksimal yang sangat tinggi, yakni mencapai 8160 x 6144 piksel pada mode penuh.
Ketika saya mengambil foto di luar ruangan pada siang hari, gambar yang dihasilkan terlihat cukup tajam dengan reproduksi warna yang cerah.
Kamera utama ini ditemani oleh sebuah sensor sekunder yang berfungsi khusus untuk mendeteksi kedalaman ruang guna menghasilkan efek bokeh pada mode potret.
Hadir pula dukungan fitur penstabil digital untuk meredam guncangan kecil, lampu kilat LED, serta fitur pembesaran digital untuk membidik objek jarak jauh.
Namun, performa kameranya langsung menurun drastis saat saya mencoba mengambil foto pada kondisi pencahayaan yang temaram atau di dalam ruangan minim cahaya.
Absennya fitur penstabil gambar berbasis optik membuat detail foto rentan buram dan memicu munculnya banyak noise di area bayangan.
Perbedaan mencolok kembali saya temukan pada spesifikasi kamera depan yang dipasang oleh produsen untuk memfasilitasi kebutuhan swafoto penggunanya.
- Varian 5G dibekali kamera depan beresolusi 5 MP dengan bukaan f/2.2 yang menghasilkan detail wajah standar.
- Varian non-5G justru mengusung kamera depan beresolusi 13 MP yang jauh lebih tajam untuk berswafoto.
- Kedua varian kamera depan dan belakang mampu melakukan perekaman video maksimal hingga resolusi 1080p pada kecepatan 30 fps.
Ketiadaan opsi perekaman video 60 fps tentu menjadi catatan tersendiri bagi Anda yang gemar membuat konten video untuk diunggah ke media sosial.
Meskipun rekaman videonya sudah dilengkapi penstabil digital, Anda tetap disarankan menggunakan gimbal tambahan agar hasil video tidak terlihat patah-patah saat berjalan.
Setelah mengulik kualitas tangkapan gambarnya, sektor krusial lain yang wajib kita bahas adalah ketahanan daya dari baterai berkapasitas besarnya.
Daya Tahan Baterai Seharian Penuh yang Menguji Kesabaran Mengisi Daya
Urusan suplai daya menjadi salah satu nilai jual utama dari ponsel ini berkat penanaman baterai jenis Litium Polimer yang tidak bisa dilepas pasang.
Kapasitas baterai terukur berada di rentang antara 5150 mAh hingga 5160 mAh, sebuah angka yang di atas rata-rata ponsel kelas entri umumnya.
Dalam penggunaan harian yang dinamis seperti berkirim pesan, berselancar di internet, dan menonton video streaming, ponsel ini dengan mudah bertahan seharian penuh.
Saya bahkan sering kali baru mencari pengisi daya pada keesokan paginya karena baterainya masih menyisakan daya sekitar 20 persen di malam hari.
Sayangnya, ketahanan baterainya yang luar biasa ini tidak diimbangi dengan teknologi pengisian daya yang responsif dan memadai untuk standar masa kini.
Ponsel ini hanya mendukung pengisian daya cepat kabel dengan daya maksimal sebesar 18W saja, yang terasa lambat untuk baterai berkapasitas di atas 5000 mAh.
Berdasarkan pengujian nyata, proses pengisian daya baterai dari kondisi benar-benar kosong hingga mencapai kapasitas 50% membutuhkan waktu tepat 60 menit.
Sementara itu, total waktu yang harus saya habiskan untuk mengisi daya baterai dari posisi 0% hingga penuh mencapai 2 jam 16 menit.
Durasi pengisian yang lebih dari dua jam ini tentu menuntut Anda untuk lebih bijak dalam mengatur waktu pengisian daya perangkat.
Biasanya, saya menyiasati kendala pengisian daya yang lambat ini dengan cara mencolokkan ponsel ke pengisi daya menjelang waktu tidur di malam hari.
Menimbang seluruh kelebihan dan kekurangan yang telah dijabarkan di atas, bagaimanakah posisi ponsel ini di peta persaingan gadget pertengahan tahun 2026?
Keputusan Akhir untuk Meminang POCO C75 di Tahun 2026
POCO C75 pada pertengahan tahun 2026 ini menjelma menjadi sebuah opsi yang sangat tersegmentasi dan membutuhkan pertimbangan matang sebelum Anda tebus.
Ponsel ini akan sangat cocok bagi pengguna yang mencari perangkat sekunder dengan layar ekstra luas untuk kebutuhan hiburan ringan atau ojek online.
Ketahanan baterai 5160 mAh dan kehadiran layar mulus 120Hz menjadi benteng pertahanan utama ponsel ini untuk memikat hati calon konsumen setianya.
Namun, Anda harus siap berkompromi dengan penyimpanan eMMC 5.1 yang lambat, resolusi layar yang hanya HD+, serta durasi pengisian daya melebihi dua jam.
Jika Anda memiliki dana ketat di angka Rp1 jutaan dan tidak keberatan dengan segala catatan minus tersebut, perangkat ini masih bisa diandalkan.
Sebaliknya, jika Anda mengutamakan kecepatan performa jangka panjang dan kualitas kamera mumpuni, menaikkan bujet sedikit untuk melirik kelas di atasnya adalah langkah bijak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow